Langsung ke konten utama

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D
sumber



Bulan-bulan berikutnya menjadi lembaran hidup baru yang sedikit banyak sudah terbayang sejak lajang dahulu. Saat tidur ada yang menemani, pas bangunnya juga tentu saja, terus sarapan berdua, bersenda gurau tentang apa saja, berbagi rencana kegiatan hari itu, mengantar doi ke kantor, jemput saat sore, singgah dulu di warung tempat nongkrong anak muda, bercerita apa saja, lalu pulang, dan ... selanjutnya terserah imajinasi Anda. :p

Alhamdulillah, sembilan bulan setelah menikah, kami pun dikaruniai keturunan. Tak cuma satu, langsung dua! Whoaa, kembar!

Saat mengetahui bahwa istri saya hamil anak kembar, tak terdefinisikan perasaan saya waktu itu. Bukan, bukan syok karena terpikir biaya-biaya yang akan menjadi dua kali lipat dalam mengurus anak xD, tapi karena luar biasa bahagia, terharu, bersyukur, dan sedikit tak percaya bisa punya anak kembar. Untuk diketahui, dari keluarga saya dan istri, menurut sepengetahuan kami tidak ada yang punya riwayat kembar. Kami pun sempat bercanda, lucu kali ya kalau punya anak kembar, dan ternyata Allah Maha Mendengar. Lahirlah anak-anak kami bulan Januari tahun ini.

Perjuangan yang tak mudah selama sembilan bulan, terutama istri yang dalam kehamilan pertamanya langsung mengandung dua jabang bayi. Akhirnya mencapai puncaknya pada Rabu pagi di Januari, melahirkan kedua anak kami dalam persalinan normal. Saya yang menemani dia sejak kehamilan, menjelang lahiran, hingga selama persalinan, menyaksikan betul perjuangannya yang begitu hebat. Luar biasa. Perjuangan hidup-mati. Masyaallah.. Saya jadi makin mengerti mengapa durhaka pada ibu itu sebuah dosa yang besar.

Kebahagiaan kami menyambut sepasang buah hati sedikit mendapat ujian, ketika anak-anak kami harus masuk ruang perawatan. Satu di perina, satu lagi di NICU. Ada masalah yang menyebabkan mereka harus dirawat intensif. Sekitar satu minggu, yang di perina sudah boleh pulang. Satu minggu berikutnya, alhamdulillah satu lagi juga menyusul ke rumah. Kami benar-benar bersyukur dan menjadi lebih mawas diri, bahwa kami tak punya kuasa apa-apa terhadap apa pun, hanya bisa berikhtiar sekuat tenaga dan bertawakkal padaNya.

Kini, setahun setelah menikah, banyak sekali perubahan yang saya alami. Dari menjadi seorang suami dan kepala keluarga, hingga menjadi Ayah dari dua orang anak sekaligus. Tak mudah, memang. Pun dikatakan sulit, mungkin tidak juga. Bersyukur sekali mendapat istri yang pengertian, asik saat diskusi, sering mengingatkan kebaikan, selalu mendukung untuk hal-hal positif, dan kadang manja-manja gitu, hehehe. Terima kasih banyak istriku untuk satu tahun ini :)

Masih banyak yang akan saya hadapi kelak, terutama menjadi kepala keluarga dengan dua orang anak. Tantangan zaman now sekarang dalam mendidik anak begitu dahsyat, namun juga penuh peluang kebaikan. Walau mungkin bentuk ikhtiar kita dalam mendidik anak berbeda dengan generasi orang tua kita dulu, namun satu hal yang sama: memohon pada Dzat Yang Maha Kuasa untuk selalu membimbing kita dan anak keturunan kita agar termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lurus, golongan orang-orang beriman dan beramal sholih. Aamiin...

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…