Langsung ke konten utama

Ujian Hasil

Seminggu terakhir ini saya bernostalgia dengan salah satu game klasik windows, minesweeper. Di windows 8 grafiknya udah modern dan ada versi petualangan sama daily challenge gitu. Dengan pede-nya saya jelas langsung mencoba level expert. Klik pertama berhasil (emang pasti bukan bom kalo klik pertama :p), klik2 selanjutnya masih oke. Udah banyak kebuka dan banyak pilihan mulai ragu. Ilmu nebak sekali2 dipake kalo reasoning buat nyari bom-nya udah mentok. Ya, maen ginian emang ada caranya, gak asal tebak aja lho.

Akhirnya beberapa kali gagal dan nyoba level yang lebih rendah. Yg easy sesuai namanya emang gampang. Level medium okelah, kadang suka lupa atau salah nandain bom jadinya gagal juga tapi udah berhasil menang. Yang expert masih belum bisa nih, sering gagal karena mentok gak bisa mastiin bomnya dimana dan akhirnya salah tebak. Satu, eh dua deng, percobaan yang super duper ngeselin tuh saat salah tebak untuk bom terakhir. Ugh rasanya pengen banting laptop..

bom terakhir salah tebak
Kesempatannya fifty-fifty, tapi dari dua kali kesempatan dua-duanya salah tebak. Bad luck brian banget yak xD. walau cuma maenan yg gak ada hadiahnya, tetep aja sih sempet ngerasa kesel, udah susah2 nandain semua bom lainnya, eh yg terakhir banget salah. Seakan sia-sia usaha sebelumnya..

Ada cerita lain yg menurut saya sama hikmahnya. Jadi di kantor saya ada semacam turnamen pingpong, ada sekitar 20an orang maen dibagi ke grup2. Minggu ini pertandingan pertama saya, lawan orang yg udah pernah maen sekali. Bisa dibilang kita seimbang lah skill-nya, gak jago2 banget, gak jelek2 banget juga. awalnya saya cukup pede bisa menang, tapi ternyata atmosfir pertandingan membuat gugup dan saya membuat banyak kesalahan hingga akhirnya kalah dua set langsung 11-sekian & 12-10 (maennya maks cuma 3 set).

Yang bikin kesel sih bukan karena kalahnya, tapi poin terakhir di kedua set yg membuat saya kalah itu yg bikin gak percaya. Jadi karena kita berdua amatir, awalnya kita main aman aja, balikin bola gak usah kenceng2 yg penting masuk. Tapi mungkin karena gugup saya lebih sering bikin out pas balikin bola, sedangkan dia lebih konsisten. Dan ketika dia cuma butuh satu poin untuk menang, dia balikin bola agak rendah kayaknya mau jatuh di dekat net. Saya prediksi jatuh bola di tengah meja, namun takdir berkata lain. Bolanya menyentuh bagian atas net sehingga power-nya tertahan, namun masih bisa untuk melewatinya. Bola jatuh tepat di depan net, memantul dua kali dengan lintasan pendek. Saya yang sudah siap menerima bola tak cukup cepat merespon, poin untuknya. Terjadi dua kali, set pertama dan kedua. Dua2nya terjadi di poin terakhir. Ah..

Poin kayak gitu biasanya memang faktor keberuntungan. Berhubung saya juga maennya gak bagus, dua kali kejadian kayak gitu jadi sangat berarti untuk lawan. Bad luck brian lagi deh..xD. Dua kejadian di atas punya satu kemiripan, yaitu ketika sudah berusaha sebisanya, namun hasilnya tak seperti yang diharapkan. Yang pertama, ketika sudah berhasil menghindari  N-1 bom, namun di bom terakhir malah salah pilih. Yang kedua, ketika sedang berusaha mengejar ketertinggalan poin, tapi malah kalah oleh poin 'beruntung'. Namun sejatinya tak ada yang namanya keberuntungan, karena semua sudah ditakdirkan.

Begitulah hidup, kadang apa yang kita usahakan di akhirnya tak sesuai dengan yang kita inginkan. Mungkin terlintas di pikiran kalau apa yang kita lakukan menjadi sia-sia. Ketika hasil yang diharapkan tidak didapatkan, padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tidak, insya Allah tidak seperti itu. Kita percaya Allah akan menilai setiap usaha kita sekecil apapun itu. Namun kita juga harus yakin, kalau hasil akhir adalah hak Dia untuk menentukan yang terbaik untuk kita. 

So, pada setiap ujian hasil (bukan hasil ujian :p) seperti itu, jangan sampai kita merasa kecewa kepada Allah. Sekali-kali jangan. Dari awal kita harus yakini, tugas kita adalah berdoa, menyempurnakan ikhtiar, dan selebihnya adalah tawakal, menyerahkan segalanya kepada Allah. Ketika hasil yg kita usahakan muncul dan orang2 berkomentar menghakimi, katakanlah
"Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah." (Dikutip dari kisah di buku Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah)

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…