Langsung ke konten utama

Dosa 'Kecil' (?)

Mungkin kita semua pernah mendengar peribahasa 'sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit'. Kalo menurut wikiquote sih artinya usaha kecil yang terus-terusan akhirnya bakal memberikan hasil. Keliatannya emang bener sih, tapi hasilnya apakah sesuai dengan yg diharapkan atau gak itu beda urusan, haha. Kalau kita ambil artinya secara langsung, emang sih kalau kita ngumpulin sedikit2 lama2 jadi banyak. Termasuk dosa 'kecil'.

Minggu lalu, laptop ane harus mengalami instal ulang setelah berjalan lancar selama 7 bulan. Penyebabnya sih karena entah gimana ceritanya setiap baru nyala, disk usage selalu 100%, mengakibatkan respon windows melambat, normal beberapa saat, lalu terbitlah bluescreen. Repeat. Sebelumnya pernah juga sih kayak gitu, tapi bisa diatasi dengan referensi dari internet. Nah yang kemaren ini udah beyond proper repair, jadilah instal ulang. Penyebabnya gak ketauan, tapi kemungkinan ada file windows nya yg corrupt, dan bisa jadi ada beberapa third-party apps yg terlibat.
sumber

Nah, anggaplah windows nya jd corrupt, kenapa ya? seakan tiba-tiba aja, out of nowhere gitu. Setelah merenung (ce'ileh), kayaknya ini adalah akumulasi error2 kecil yg terjadi selama ini. Beberapa kali emang sih pernah nginstal game bajakan dan pas maen itu sering nge-hang. Belum lagi nginstal sopwer macem2 buat kerja. Beberapa diantaranya bisa jadi ada yg gak fully compatible dengan windows 8.1, atau gak cocok satu sama lain. Akhirnya akumulasi itu semua membebani windows nya, crash lah dia.

Dari pengalaman itu, ane jadi mikir, mungkin hal yang sama bisa juga dialami manusia. Bentuknya emang bukan karena program bajakan, tapi dalam bentuk perbuatan gak baik atau dosa yang dianggap 'kecil'. Ya, mungkin kita seringkali melakukan sesuatu yg sebenernya itu gak baik atau ada dosanya, tapi mencari pembenaran dan akhirnya memaklumi perbuatan itu. Contoh, yg ane sendiri pernah ngalamin, pas naek motor nyalip2 pas macet, gak sengaja nyenggol spion mobil. Terus bukannya minta maaf malah kabur. Mungkin terlihat kecil sih, tapi tetep aja sbenernya salah kan. Duh maaf ya yg mobilnya pernah ane senggol spionnya (kali aja gitu ada yg baca).

Menganggap 'kecil' sebuah dosa, atau kasarnya meremehkan perbuatan dosa, sering tanpa sadar kita lakukan (jangan2 cuma ane nih, duuh). Dan pada akhirnya, akumulasi dari yg 'kecil2' itu ya jadi besar juga, jadi banyak. Dampaknya ya bisa macem2, mungkin jadi sakit2an, ngerasa rezeki kurang, sering gelisah, atau mungkin biasa2 aja, tapi sebenernya gak ada keberkahan yg dirasakan. Ya Allah, ampunilah kami..

Ada sebuah cerita yg menggambarkan bahayanya meremehkan dosa kecil. Agak lupa sih, tapi intinya ada seseorang yg disuruh memilih melakukan satu perbuatan dosa dari tiga pilihan: berzina, membunuh anak kecil, atau minum khamr. Akhirnya milih minum khamr aja karena dianggap dosanya  paling 'kecil'. Tapi kemudian, setelah minum itu dia jadi mabuk, tanpa kesadaran penuh dia akhirnya berzina juga. Dan karena kepergok sama anak kecil tadi, dia juga membunuh anak itu. AstaghfiruLlah, lindungilah kami dari bisikan syetan yg terkutuk ya Rabb..

Entah itu kisah nyata atau legenda, tapi semoga kita bisa ambil hikmahnya. Kita memang harus berhati-hati terhadap dosa yg kita anggap 'kecil' ini, karena bisa jadi itu akan menuntun kita ke perbuatan yg jauh lebih buruk. Kata guru ane juga, yg dia kutip dari buku 'The Power of Habit', kenapa seseorang itu bisa ngerasa biasa aja kalau berbuat maksiat, karena memang dia ngerasain sebuah 'kenikmatan' saat melakukannya. Terbentuknya suatu kebiasaan itu karena awalnya ada 'kenikmatan' atau 'kemenangan' kecil yg dirasakan, sehingga dia mengulang2 hal itu dan menjadi habit.

Nah, jangan sampe nih ada dari kebiasaan atau habit kita yg sebenernya gak bagus, tapi kita anggep biasa aja. Emang sih gak segampang ngomong, tapi yg pasti kita mesti berusaha jadi lebih baik lagi. Terutama ane sendiri sih, banyak dosa banget keknya nih, kacau dah. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan2 yg tak diridhoi-Nya, dan mengampuni kita atas perbuatan yg telah lau. Aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Knowing

Hari rabu minggu lalu, entah setelah berapa lama akhirnya penulis berkesempatan untuk menonton bioskop lagi. Mungkin sudah lebih dari setengah tahun kali ya, selama itu nonton film ‘bioskop’nya di kelas atau gak laptop sendiri, hehe. Lumayan menghemat loh, misalkan paling murah tiket bioskop 10.000, sebulan paling gak ada satu film baru yang wajib tonton, 6x10000= 60.000! belum lagi ongkos, snack atau makannya, minum juga pastinya, benar2 menghemat kan. haha, perhitungan banget ye. Apapun itu, film yang berhasil ditonton minggu lalu adalah Knowing. Ada yang unik saat memutuskan untuk menonton film ini. Begini ceritanya, penulis memilih bioskop yang paling dekat rumah untuk menonton (hidup cijantung!), dan kebetulan film yang diputar salah satunya adalah Knowing. Ternyata Knowing itu satu-satunya film produksi luar negeri yang ada di daftar main bioskop itu, lainnya film dalam negeri. Sekedar informasi, di daerah sini memang yang lebih laku itu film lokal, film hollywood gitu cuma sedi

Daftar Pranala Blog-nya anak Jagung

Yak berikut daftar pranala blog anak fasilkom ui 2009 alias Jagung. Dicari dan diambil dari berbagai sumber secara brute force. Yang diambil adalah blog dengan domain sendiri atau yang ada di blogspot, wordpress, blogsome, deviantart, tumblr, .co.cc, dan livejournal. Selain itu seperti formspring dan twitter tidak dimasukkan karena kayaknya bukan termasuk kategori 'blog'. Kalau ada yang ingin menambahkan atau justru tidak ingin dimasukkan, feel free to contact me :)

Resensi: La Tahzan for Love

  Identitas buku Judul : La Tahzan for Love Judul Asli : Khaifatun Min al-Hubb Penulis : Najla Mahfudz Penerbit : Akar Media Sebuah buku yang berisi tentang berbagai macam cerita mengenai lika-liku kehidupan remaja. Salah satu seri dari buku berjudul ‘La Tahzan..’ ini mengkhususkan pembahasan tentang sebuah perasaan yang dialami semua orang, cinta. (liat dari judulnya juga bisa kan? hehe) Sejak Adam dan Hawa diciptakan, persoalan mengenai cinta selalu mewarnai kehidupan umat manusia. Cinta dapat memberikan perdamaian di muka bumi ini, namun cinta pula dapat menjadi penyebab hancur leburnya dunia di tangan manusia. Cinta atau kasih sayang bagai mawar merah yang indah, dia dapat memberikan kenyamanan untuk siapa saja yang melihatnya tetapi dia juga dapat melukai kulit bila kita tidak hati-hati dengannya. Terlebih lagi di jaman sekarang, para remaja yang sedang mencari jati diri sering merasa tersiksa akibat pengertian cinta yang salah. Mereka yang belum mengenal dan mencoba untuk