Langsung ke konten utama

It's Time

Minggu lalu, alhamdulillah saya dan keluarga (bapak ibu adik) berkesempatan untuk pergi ke arab saudi dalam rangka jalan2 umroh. Sebagaimana org yg akan pergi umroh, saya kabarkan ke kawan dan kolega via pesbuk agar didoakan selamat selama di sana, dan tak lupa menampung titipan doa. Awalnya dikira cuma beberapa aja yg beneran nitip doa, taunya banyak bener. Jadilan dibikin notes di hape.

Sesampainya di sana, setelah mengerjakan rangkaian umroh, saya coba atur strategi untuk kapan dan dimana bakal saya bacain tuh notes daftar doa. Singkat cerita, setelah tawaf sunnah saya coba masuk area Hijir Ismail. Padahal jam 3 pagi, tapi padetnya gak kalah kayak di kereta commuter pas jam berangkat kerja. Finally, saya tunaikan tugas saya dengan ngebacain apa yg ada di notes itu. Alhamdulillah, pas di Madinah pun sempet berdoa di Raudhoh, walaupun gak sambil baca notes lagi, karena tinggal doa "Ya Allah, perkenankanlah doa hamba dan teman2 seperti yg apa hamba minta saat di Hijir Ismail". hehe

Doa, memang salah satu 'senjata' bagi seorang muslim untuk menghadapi kehidupan dunia. Para ulama dan ustadz sudah sering banget ngajarin keutamaan berdoa, sebagai bagian yg tak terpisahkan dengan ikhtiar dan tawakal. Istilahnya, doa, ikhtiar, dan tawakal itu udah satu paket deh. Paket untuk mencapai segala sesuatu yg kita inginkan di dunia dan akhirat. Urutan gk terlalu penting sih rasanya, ketiganya harus dilakukan secara kontinyu bukan diskrit.

Nah, berdoa di Hijr Ismail dan Raudhoh, katanya sih punya keutamaan sendiri dan insya Allah akan lebih mudah terkabul. Tapi ya itu, kalo cuma doa aja mah rasanya hampir gak mungkin apa yg kita minta itu terwujud. Paketnya belum lengkap, kurang ikhtiar sama tawakal. Makanya saya sering ngingetin diri sendiri untuk menyempurnakan doa dengan ikhtiar dan tawakal. Apalagi kalo minta jodoh..eeaaa...:p

Btw, macem2 euy harapan yg dititip dari teman2 saya, mulai dari yg generic 'doain yg baik2 ya', sampe agak detil 'semoga lulus ujian ini' dll. Saya sendiri tentu punya doa khusus, lebih tepatnya harapan yg ingin dicapai tahun ini. Bisa dibilang ada 3 hal yang ingin dicapai tahun ini, walau menurut saya sendiri agak sulit semuanya tercapai. Tapi kalau buat Allah Yang Maha Berkehendak, apapun bisa terjadi bro..
sumber

Mau tau apa aja 3 hal itu? kasih tau gak ya..hehe. Satu, mendapatkan LoA unconditional dari univ di UK. Sampai sekarang udah dapet yg conditional sih, dan kondisi yg mesti dicapai sebenernya tinggal diproses aja. Parah dah jiwa procastinate nya nih, kalo gak mepet gak asik xD. semoga dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Harus!

Kedua, beasiswa. Sekarang kondisinya lagi nunggu pengumuman Chevening, dan persiapan buat daftar LPDP. Untuk chevening kayaknya udah hopeless lah, gak bakal ngarep banget. Karena kayaknya apa yg mereka cari dari calon awardee, rasanya kurang cocok sama personality saya, hehe. Nah untuk LPDP ini, berhubung baru sadar abis pulang umroh, deadline batch pertama itu jumat kemaren, gagal bisa deh daftar gelombang pertama. Terlalu mepet kalau daftar kemaren. Semoga pas deadline yg kedua akhir April nanti bisa mempersiapkan yg terbaik. Harus!

Dan untuk yang ketiga..jeng jeng! udah lah gak usah, udah keseringan disebut xD. Intinya untuk yg ini, udah dicoba tahun lalu ternyata masih belum boleh, bilangnya tahun depan lah minimal. Sekarang udah taun depannya taun kemaren, entah apakah sudah boleh atau belum. Mungkin buat yg ini sulitnya adalah buat dapetin acc-nya terutama dari ibu. Yah dari diri sendiri jg emang harus terus memperbaiki diri sih. Semoga perjuangan tahun ini membuahkan hasil. Insya Allah!

Inilah saatnya. Waktu untuk bersantai sudah berakhir. Waktu bermain dan bersenang2 harus dikurangi. Kini dan seterusnya adalah waktu untuk berjuang. Memperjuangkan hal2 yg semoga dengannya semakin mendekatkan diri kita dengan Pencipta kita, dan meraih ridha-Nya. It's time.

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…