Langsung ke konten utama

Sepeda

Awal November tahun lalu, iye 2013 maksudnya, saya alhamdulillah resmi menjadi seorang biker. Biker disini maksudnya pesepeda roda dua, dan gak pake mesin! :p Mungkin lebih tepat disebut bicyclist kali ye, yah pokoknya gitu deh.

Mengapa tiba-tiba saya jadi biker? Karena saya beli sepeda baru. Ciee sepeda baru..hehe, itu yg paling sering saya denger sekitar 3 hari ba'da beli. Fyi, saya udah lama banget pengen beli sepeda baru, dengan uang sendiri tentunya, sejak masih kuliah. Mungkin sekitar akhir 2011 udah mulai nyari2 atau ngeliat2 web sepeda macem Polygon, Wim Cycle. Entah kenapa setelah ngeliat ada temen yg baru beli sepeda waktu itu, dan ada juga yg kadang naek sepeda ke kampus depok dari rumahnya di pondok kopi, saya jadi pengen juga naek sepeda lagi. Ya, dulu waktu SMP saya pernah punya sepeda, mostly waktu itu dipake buat nganter adek ke TK sekitar setahun. Sekarang sepedanya udah disumbangin ke kampung kalo gak salah, karena udah gak ada yang make lagi.

Nah balik ke topik, sudah sekitar 2 bulan terakhir ini saya mulai sering bersepeda ke kantor di depok. Istilah kerennya Bike to Work (B2W). Kalau pas lagi ngantor di depok, gak puasa, gak sakit, n gak kesiangan bangun, saya biasanya akan naik sepeda, hehe. Jaraknya kurang lebih 10 km, ditempuh sekitar 40 menit biasanya. Kalau berangkat lewat jalur 'dalem': komplek kopassus, jalan pemukiman, cukup naik turun. Pas pulang baru lewat jalan raya Bogor, lurus dan cenderung turun. Alhamdulillah sampai saat ini belum pernah bermasalah selama perjalanan :D

sepeda wisata di tajur, bogor
Dari sekitar dua bulan pengalaman baru ini, saya sedikit banyak mendapat berbagai macam pelajaran. Yang paling saya rasain sih, ternyata memang jalanan di jakarta-depok masih belum ramah pesepeda. Makanya, saya pikir yang konsisten bersepeda itu hanyalah orang-orang dengan kesabaran luar biasa. Sabar disalip angkot terus berhenti di depan, kadang tiba2, sabar diklaksonin motor kalo lagi padet atau nyebrang, sabar ngayuh pelan-pelan pas tanjakan, dll. Wew, bener-bener perjuangan deh. Pas awal2 sih rasanya capek banget ngadepin gituan n pengen banget mengumpat sana sini, hehe. Tapi lama-lama mulai terbiasa sih, udah bisa nebak kondisi jalan n bisa ngerespon lebih cepat n tepat.

Terus, hal lain yang saya dapatkan yaitu tentang fokus. Pas lagi bersepeda di jalan, apalagi jalan raya, kita harus senantiasa fokus tentang kondisi sepeda dan jalan di depan. Meleng dikit bisa nyerempet orang atau kendaraan lain. Kalau gak fokus sama kondisi medan juga bisa salah masuk gigi. Misal di depan bakal ada tanjakan agak panjang, telat nurunin gigi berakibat harus pake tenaga dorong, hehe. Seperti yang dibilang sebelumnya, ada aja rintangan di jalan, dan mesti fokus untuk ngadepinnya. Misal angkot, harus antisipasi dia tiba2 berenti. Saya pernah hampir aja nabrak lampu belakang mobil gara2 nengok ke kanan belakang n gak perkirain jarak ke depan. Whew, untung masih sempet sadar n bisa belok tajem.

Dan, yang saya baru mulai sadari dari bersepeda adalah, kita diajarkan bagaimana caranya dalam mencapai tujuan, reaching our goal or dream. Saat bersepeda, tentu kita punya tempat yang ingin dituju, terlepas alasan di baliknya. Misal bike to work, ya tujuannya kantor, atau pas pulang ya tujuannya rumah. Nah, dalam perjalanan mencapai tujuan itu kita harus sabar terhadap berbagai kondisi dan fokus agar selamat sampai tujuan. Ya, dua hal itu harus ada jika kita ingin mencapai tujuan kita, pun dalam konteks yang lebih luas.

Dalam perjalanan bersepeda, kita harus kayuh setiap saat sekuat tenaga, tak peduli tanjakan atau turunan. To reach our goal, we must struggle on every step. Gak ada jalan pintas atau jalan instan, untuk mencapai tujuan kita harus selalu melalui rute yang sudah ada. Ya, kunci sukses mencapai tujuan, yang saya anggap hukum alam, memang hanya satu: berjuang mendapatkannya. Memang berat saat di jalan, tapi saya yakin, semua perjuangan itu akan terbayar lunas saat sudah mencapai tujuan. Insya Allah. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Knowing

Hari rabu minggu lalu, entah setelah berapa lama akhirnya penulis berkesempatan untuk menonton bioskop lagi. Mungkin sudah lebih dari setengah tahun kali ya, selama itu nonton film ‘bioskop’nya di kelas atau gak laptop sendiri, hehe. Lumayan menghemat loh, misalkan paling murah tiket bioskop 10.000, sebulan paling gak ada satu film baru yang wajib tonton, 6x10000= 60.000! belum lagi ongkos, snack atau makannya, minum juga pastinya, benar2 menghemat kan. haha, perhitungan banget ye. Apapun itu, film yang berhasil ditonton minggu lalu adalah Knowing. Ada yang unik saat memutuskan untuk menonton film ini. Begini ceritanya, penulis memilih bioskop yang paling dekat rumah untuk menonton (hidup cijantung!), dan kebetulan film yang diputar salah satunya adalah Knowing. Ternyata Knowing itu satu-satunya film produksi luar negeri yang ada di daftar main bioskop itu, lainnya film dalam negeri. Sekedar informasi, di daerah sini memang yang lebih laku itu film lokal, film hollywood gitu cuma sedi

Daftar Pranala Blog-nya anak Jagung

Yak berikut daftar pranala blog anak fasilkom ui 2009 alias Jagung. Dicari dan diambil dari berbagai sumber secara brute force. Yang diambil adalah blog dengan domain sendiri atau yang ada di blogspot, wordpress, blogsome, deviantart, tumblr, .co.cc, dan livejournal. Selain itu seperti formspring dan twitter tidak dimasukkan karena kayaknya bukan termasuk kategori 'blog'. Kalau ada yang ingin menambahkan atau justru tidak ingin dimasukkan, feel free to contact me :)

Resensi: La Tahzan for Love

  Identitas buku Judul : La Tahzan for Love Judul Asli : Khaifatun Min al-Hubb Penulis : Najla Mahfudz Penerbit : Akar Media Sebuah buku yang berisi tentang berbagai macam cerita mengenai lika-liku kehidupan remaja. Salah satu seri dari buku berjudul ‘La Tahzan..’ ini mengkhususkan pembahasan tentang sebuah perasaan yang dialami semua orang, cinta. (liat dari judulnya juga bisa kan? hehe) Sejak Adam dan Hawa diciptakan, persoalan mengenai cinta selalu mewarnai kehidupan umat manusia. Cinta dapat memberikan perdamaian di muka bumi ini, namun cinta pula dapat menjadi penyebab hancur leburnya dunia di tangan manusia. Cinta atau kasih sayang bagai mawar merah yang indah, dia dapat memberikan kenyamanan untuk siapa saja yang melihatnya tetapi dia juga dapat melukai kulit bila kita tidak hati-hati dengannya. Terlebih lagi di jaman sekarang, para remaja yang sedang mencari jati diri sering merasa tersiksa akibat pengertian cinta yang salah. Mereka yang belum mengenal dan mencoba untuk