Langsung ke konten utama

Crossed Thought

sumber
I was checked door lock on my office this night, when it suddenly crossed my mind: I need to talk. To be precise, I feel I have to put all of thoughts on my head out. Yes, lately I have been thinking too much about all sort of things which I think is important for me. Unfortunately, I'm not an extrovert who could easily talk about it to anyone. So, I will just write it down here. Maybe not a best solution, but usually I would feel more calm. Semoga :D

Jadi yang tiba-tiba terpikir adalah, andaikan tiap orang dapat berkomunikasi dengan baik, bukankah dunia akan menjadi lebih indah? Ah entahlah, saya sendiri sebenarnya kurang yakin. Saya hanya mengamati dan salah satu kesimpulan yang saya dapat adalah, betapa banyak kesalahpahaman terjadi hanya gara2 komunikasi yang kurang baik. Most of the time, ini terjadi pada diri saya, makanya bisa kepikiran hal kayak gini, hehe.

Sedikit bercerita, entah kenapa, saya tumbuh menjadi orang yang cenderung pendiam. Rasanya kurang nyaman gitu kalau mau mengungkapkan pikiran. Apakah pola asuh orang tua? bisa jadi. Adik laki-laki saya yg pertama sifatnya mirip2, gak banyak ngomong, kalau ditanya atau ada perlu aja baru ngomong. Adik kedua saya, perempuan, malah sebaliknya. Seakan gak bisa berenti ngomong, apaa aja diceritain atau dikomentarin, haha. Mungkin emang nature-nya cewek kali ya? :p. Sebenernya kalo ortu sih orangnya cenderung terbuka. Tapi somehow ada rasa kurang nyaman--mungkin ada rasa takut juga-- kalau mau terbuka, ngungkapin pikiran, dan semacamnya. It's like I'm afraid to be judged as bad or wrong person if I tell what I thought. I know this is a problem, but it's like a habit. I find it difficult to be more open though I know it is a good thing. Ini yg kadang2 memicu masalah. Dan ini juga yg mungkin sedang dihadapi..

Terlepas dari masalah yg ada, saya bersyukur sudah sadar akan hal ini. Tinggal berusaha untuk terus membangun komunikasi yg sehat dan intens supaya gak terjadi lagi masalah2 kecil cuma gara2 miskomunikasi. Sudah terlalu mahal 'harga' yang harus saya bayar untuk menyadari hal ini. Yet I still struggling to be a better person than I was. Yang namanya perjuangan memang gak pernah instan ya :)

Ah, tiba2 jadi bingung mau nulis apa lagi. Udah agak tenangan nih kayaknya, hehe. Kebetulan lagi nginep di kantor, jadinya masih kuat buat ngeblog. Kalau di rumah mah mau banyak pikiran apa kagak, yang dilakukan cuma satu: langsung tidur. hahaha :D

Semoga tetap ada manfaat yang bisa diambil. :)

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…