Langsung ke konten utama

Misi : Semeru (3/3-End)

Tanggal 24 Agustus – Turun!

Alhamdulillah, setelah beristirahat semalam lagi di Kalimati, kami merasa jauh lebih sehat dan segar. Dengan sarapan sehat berupa martabak mie lezat buatan chef ling dan tsabitah dan teh manis hangat, kami bersiap untuk perjalanan hari ini. Tujuannya satu: kota Malang.

Istirahat sebelum nanjak ke ranu kumbolo
Yak, setelah sarapan dan beres2 tenda de el el, sekitar jam 10-11 kami mulai perjalanan turun ke Ranu Kumbolo. Perjalanan kali ini terasa jauh lebih ringan daripada saat naik *ya iyalah*. Selain karena barang bawaan yang sudah berkurang—beras lebih dikasih ke pendaki lain—mungkin juga karena perasaan cukup puas setelah (mencoba) mendaki mahameru. Satu orang yang kemarin sakit saat muncak pun kini jalannya jauh lebih cepat. Trek ke Kalimati-Ranu Kumbolo pun rasanya gak sejauh saat perjalanan sebaliknya. Kurang lebih dua jam sudah sampai.

Di Rakum, kami istirahat plus plus dulu. Plus sholat plus makan snack maksudnya :D. Nah, pas mau mulai jalan lagi, kami terhalang oleh seseorang yang lagi ngadain acara pemecahan rekor: Backward Hiking alias naek gunung sambil jalan mundur. Nah lho, gimana caranya kan? Pake spion gitu jalannya? Dan ternyata emang bener! Jalannya pake spion! Hahaha..ada-ada aja nih orang. Spionnya dimodif gitu, pake kerangka besi supaya bisa dipasang di badannya. Coba cari deh di google “Gimbal Alas”, mungkin ada fotonya.

Nah akhirnya, menjelang jam 14 kami pun meneruskan perjalanan turun. Masih dengan kecepatan yang lebih cepat dari saat hari pertama dan kali ini tidak ada perhentian yang terlalu lama. Sekitar jam 17 akhirnya sampai lagi di Ranu pane, alhamdulillah. Istirahat agak lama sambil nyari angkutan buat ke kota Malang. Kebetulan pas di sana ada rombongan lain yang waktu itu bareng juga naek truk, plus temennya si Ardan juga. Jadilah kami ber-16 naik Jeep menuju Malang.
 
Foto "after" :p
Perjalanan turun ke Malang ternyata lumayan ekstrem juga. Berangkat maghrib, satu jeep, 14 orang berdiri di belakang, 16 carrier++ di atap mobil, jalanan naik turun belok-belok, dan gak selalu mulus. Alhamdulillah, pas sampe Malang sekitar 2 jam kemudian, tak ada yang kurang :D. Akhirnya, nemu lagi peradaban—alias indomaret, martabak, dll—setelah tak kurang dari 3 malam di gunung. Setelah bengong2 dan menikmati minuman kulkas, kami beranjak naik angkot ke wisma penginapan untuk bermalam.

Tanggal 25-26 Agustus – Going home!

Wismanya cukup nyaman. Ada beberapa kamar dengan kapasitas dua dan lima orang. Walaupun udara tak terlalu segar, bisa tidur di kasur lagi adalah sesuatu yang sangat disyukuri. Paginya kami sedikit evaluasi pendakian kemarin, terus nyari sarapan sekitar wisma. Dan ternyata memang benar kata teman penulis yang kuliah di Yogya, kalau di sana tuh dikit banget lapak makanan yang buka di pagi hari, jadi susah cari sarapan. Di Malang tampaknya begitu juga. Apa karena sekarang hari Minggu? Entahlah.

Abis sarapan, acara bebas. Pada jalan-jalan deh terserah mau kemana, yang penting sebelum jam 11 udah balik lagi buat persiapan pulang. Entah kenapa penulis kurang tertarik, jadinya balik ke wisma lagi buat tidur lagi istirahat dan baca buku yang sengaja dibawa. Penasaran kan buku apa? *kepedean* xD

Karena udah gak terlalu banyak hal menarik, singkat cerita kereta Matarmaja tujuan Pasar Senen berangkat dari Stasiun Malang. Kami yang ada di dalamnya, sudah terlalu rindu untuk berjumpa dengan kasur di kamar masing-masing, sehingga tak terlalu banyak cakap. Perjalanan sekitar 16 jam itu berlalu begitu saja—gak deng, bosen banget :p. Alhamdulillah, pasar senen, jam 10 kurang. Nyambung KRL ke depok. Sesampainya di depok kami pun saling mengucapkan salam perpisahan.

Perjalanan boleh saja usai, namun entah rasa apa yang tersimpan dalam hati tiap kami. Raut muka karena lelah boleh sama, namun apa yang membekas aku yakin berbeda. Senang, puas, kecewa, bangga, bersyukur, bisa jadi campur aduk semua. Namun, aku selalu berharap dalam tiap perjalanan:
Tiap ketinggian yang kami daki, sebanyak itu pula kami selalu merendahkan diri, di hadapan-Nya. Semoga bertambah rasa takzim kami terhadap keagungan-Nya, Allah Sang Pencipta. Agar kami, dapat lebih mendekat lagi pada-Nya.. Semoga.




Yahya Muhammad
28/9

*special thanks to Tsabitah atas foto2nya. Silakan cek FB-nya aja kalo mau liat lengkapnya :D

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…