Langsung ke konten utama

Misi : Semeru (2/3)

Tanggal 23 Agustus – Summit Attack!

Jam 00.00, kami masih berjalan menuju Arcopodo, pos sebelum Mahameru. Treknya cukup terjal dan sempit. Tanahnya sudah berpasir padat, walau pepohonan masih banyak. Sesekali kami dapat melihat langit yang indah dan hamparan kota di kejauhan. Sampai di Arcopodo cukup cepat, mungkin jam 1 atau kurang. Ada beberapa yang berkemah sekitar situ. I wonder, how could they sleep in very cold place like here? Ah, mungkin mereka emang udah biasa kali ya. Nah, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

Awalnya, trek setelah Arcopodo masih mirip, terjal berpasir padat dengan banyak pepohonan. Namun tak lama, trek aslinya mulai dijajaki, pasir+batu minus tanaman. Kalau kamu waktu kecil, atau kapanpun, pernah melihat gunung/gundukan pasir bahan material yang biasanya ada di toko bangunan, kira2 begitulah trek yang dilalui. Tambahkan beberapa batu besar dan kerikil, mungkin bisa jadi miniaturnya. Hanya saja, trek sesungguhnya ialah sebuah gunung vulkanik.

Honestly, it is the hardest track I ever climbed. Berpasir dan terjal. Kemiringannya mungkin mendekati 45 derajat atau lebih, I didn’t know for sure. Kesulitannya mungkin begini: ketika naik 3 langkah, pasir membuat kita turun 2 langkah. Begitu seterusnya. Tanpa tahu sampai mana, atau sampai kapan.

Waktu malam, cukup ramai pendaki yang mengincar sunrise di puncak. Saat menengok ke atas, lampu headlamp pendaki yang duluan terlihat berbaris, lurus ke atas, namun tak tahu pasti mana ujungnya. Melihat ke bawah pun tak beda, kelipan lampu berbaris ke bawah, panjang, bergerak2 menanjak dengan susah payah. Mungkin, kalau dilihat dengan helikopter atau pesawat dari atas, kami seperti semut yang berusaha mendaki gunung pasir.

Pemandangan di trek tanjakan
Tim kami awalnya masih bersama-sama. Baru naik beberapa ratus meter, yang lambat mulai tertinggal. Yang depan, sering tak bisa menunggu lebih lama. Sulitnya trek, menusuknya angin, dinginnya suhu, keringnya tenggorokan dan bibir, letihnya kaki, berpasirnya wajah, merupakan kombinasi terbaik untuk mengeliminasi mental yang lemah. Beruntung, yang tertinggal masih bertahan, walau sebenarnya terlihat sangat lelah. Sayangnya, ketidaktahuan kami akan trek yang seekstrem ini, membuat semua rencana tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Entah bagaimana kronologisnya, tiba-tiba saja penulis terpisah dari tim, yang duluan ataupun yang belakang. Penulis berada di tengah. Di depan ada tiga orang, di belakang ada empat orang dengan satu orang terlihat sakit. Pada saat itu penulis tidak membawa makan minum apapun selain gula merah. Yang bawa carrier ada satu di depan, dua di belakang. Penulis bertekad mengejar yang di depan dengan harapan dapat menenggak seteguk air.

Seingat penulis waktu itu, jarak dari Arcopodo, atau pos terakhir selain arcopodo, ke Mahameru tidak lebih dari 5 kilometer. Entah benar atau hanya supaya bikin semangat, tapi perjalanan ini rasanya seperti tak berujung. Bulan, yang waktu itu sedang purnama, bergerak pelan, seakan menyemangati kami yang sedang menanjak. Lama-kelamaan langit semakin terang, sedang kami masih tak tahu harus sampai kapan terus berjalan. Tengok ke atas, masih tak terlihat adanya perhentian. Menoleh ke bawah, rasanya sayang sudah setinggi ini.

Pemandangan lain dari trek tanjakan
Penulis pun terus merangkak ke atas, selangkah demi selangkah dan seringkali berhenti sejenak. Ah, indahnya pemandangan bahkan dari trek sulit tersebut. Hamparan pegunungan tengger, bromo terlihat tak jauh. Di batas horizon pun terlihat kokoh gunung yang entah apa namanya itu. Masya Allah, sungguh besar kuasa-Mu ya Allah..

Fajar menyingsing, entah sudah jam berapa. Perjalanan masih belum terlihat ujungnya. Pendaki mulai menyepi. Barisan panjang pendaki saat malam, sudah tak ada. Entah sudah mencapai puncak, atau menyerah di tengah jalan. Beberapa pendaki memang sudah turun dari atas. Sesekali bertanya, “masih jauh mas puncaknya?”, ada yang menjawab jujur, “lumayan mas”, ada juga yang menyemangati “yah setengah jam lagi lah”, meski penulis tak tahu sudah berapa lama berjalan namun tak kunjung sampai. Gulir putus asa dan godaan untuk turun, sudah sedari tadi menyelimuti pikiran.

Sendiri. Sepi. Puncak masih bersembunyi. Matahari mulai meninggi. Sesungguhnya apa yang aku cari?

Begitulah kira2 kondisi penulis waktu itu. Pikiran udah gak tau lagi kemana, mikirin yang macem2, atau malah kosong. Tapi penulis masih bertekad untuk mencapai puncak. Sudah sedekat ini, batin penulis. Inilah ujian kesungguhan, apakah aku bisa bersungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu bagaimanapun sulitnya? Mungkin itu yang membuat penulis terus menanjak. Sebuah tantangan. Pembuktian diri menghadapi (simulasi) kerasnya kehidupan.

Then, finally, I looked up, and no more sandy track nor rocks. It is the sky. I’m on the top of Semeru, Mahameru. All praise is due to Allah. Alhamdulillah.

Foto di mahameru
Masya Allah. Tak tahu lagi apa yang bisa kuucapkan untuk menggambarkan keindahan ini. Segala puji hanya bagi Allah Swt, Maha Pencipta semua ini. Sungguh, kita hanyalah makhlukNya yang lemah. Mendaki gunung saja sudah susah payah, gimana mau sombong? Sungguh, tiada daya, upaya, dan kekuatan, kecuali dari-Nya.. :)

Di puncak, penulis bertemu dengan 3 orang yang duluan itu. Ternyata merekapun belum lama sampai sana, walaupun sudah cukup lama untuk foto2. Akhirnya setelah sedikit foto2 lagi dan recharge badan, kami pun mulai turun lagi. Turunnya tentu saja jauh lebih mudah daripada naik. Tinggal srat sret sroooot :p. Walau begitu, lagi-lagi penulis ketinggalan karena kondisi dengkul kaki yang bermasalah. Tapi tetep aja turunnya jauh lebih cepet dari naiknya. Naik trek pasir itu mungkin sekitar 5-6 jam, turun kayaknya gak lebih dari 1 jam.

Uniknya, di tengah jalan mau turun, ternyata si ibos yang tadi di belakang, masih ngincer puncak. Dia masih jalan ke atas sendiri, padahal udah agak siang n khawatir gas beracun dari kawahnya udah mulai muncul. Terus di belakangnya ada juga hafizh, ngincer puncak juga. Singkat cerita hanya ibos yg berhasil sampai puncak.

Sesampainya di trek pasir padat lagi, barulah tau kondisi yang semalam tertinggal. Satu cewek yang terlihat sakit itu akhirnya benar2 drop, untungnya gak hipotermia, habis tenaga aja. Dia digendong turun sama ardan dan ada satu orang yang bantuin. Orang yg bantuin ini strong banget, kayaknya udah biasa banget naek gunung gendong orang :D. Let’s call him semeru’s power ranger :D

Singkat cerita, sesampainya di tenda, selain ibos dan hafizh, kami semua istirahat dan ada yang mengambil air untuk masak. Kira2 nyampe tenda tuh jam 11an. Mulai masak air itu kayaknya jam 1 atau jam 2 gitu. Rencana awal sih hari itu juga mau jalan lagi, turun dan nginep di ranu kumbolo lagi. Tapi melihat kondisi yang pada tepar gitu, akhirnya diputusin nginep semalem lagi di kalimati, besoknya baru turun.


Wew, maybe it was the most tiring day of my life. Kering dan dinginnya angin saat terik matahari siang hari, bikin bingung badan. Saat malam, hangat matahari sudah tak terasa, membuat dingin udara makin berkuasa. Meski begitu, rasa lelah sudah menjajah seluruh bagian tubuh. Tidur akhirnya jadi jalan utama untuk mengumpulkan energi. :D

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…