Langsung ke konten utama

Misi : Semeru (1/3)

Bulan Agustus kemarin, penulis melakukan perjalanan mendaki gunung Semeru bersama beberapa teman. Kami satu tim berdelapan, kumpulan anak UI depok, dengan 75% orang2nya adalah angkatan akhir yang akan diwisuda seminggu setelah perjalanan tersebut :D. To be precise, kami berangkat tanggal 20 siang, dan sampai di jakarta tanggal 26 pagi. Dan wisudanya tanggal 29-30, hehe. Detilnya silakan baca terus, akan penulis ceritakan day by day alias per hari. Brace yourself, long post is coming. Mudah-mudahan gak bosen ya :D

Tanggal 19 Agustus – Persiapan!

Hari Senin sore kami berkumpul di salah satu pojokan IQF di jalan Kapuk, Depok. Agendanya adalah packing dan pembagian barang bawaan tim. Well, nothing special, hal yang biasa dilakukan sebelum naik gunung. Supaya agak panjang dikit, penulis ceritain aja kali ya profil singkat anggota timnya :p
  • Ipin : ceritanya team leader, teman di fasilkom. Sebelumnya pernah ke semeru tp belom sampe puncak. Beberapa kali naik gunung.
  • Hafizh : teman di fasilkom. Sebelumnya pernah ke semeru, bareng ipin, tp belom sampe puncak. Sering naik gunung.
  • Ibos : teman di fasilkom. Belum pernah ke semeru, tapi sering naik gunung.
  • Tsabitah : teman dari Kimia, ngakunya sih belum pernah naik gunung. Tp kayaknya sih sering jalan2 :p
  • Ling2 : temannya tsabitah dari farmasi, setahu penulis belum pernah naik gunung.
  • Ardan : temannya tsabitah dari fisika, angkatan 2010. Beberapa kali naik gunung.
  • Ganes : temannya ardan, fisika 2010 jg. Pernah naik gunung tp gak tau brapa kali :p

Nah, begitulah kondisi awal tim kami, dengan komposisi 6:2. Kalo penulis sendiri sih pernah naik gunung, tapi itu juga udah hampir dua tahun yg lalu. Oya, awalnya sih komposisinya 5 cowok 3 cewek, tapi berhubung di detik2 terakhir ada satu yg gak bisa, akhirnya digantiin si ganes deh.

Honestly, agak kurang meyakinkan memang persiapan fisiknya, karena waktu antara libur lebaran dengan waktu perjalanan mepet banget. Tapi tiket udah telanjur dibeli, ya akhirnya kami pun pergi ke Malang :D.

Tanggal 20 Agustus – Berangkat!

Keberangkatan ke Malang menggunakan kereta ekonomi AC, dimana AC nya adalah AC ruangan yang dimodif supaya bisa ditaro dalem gerbong (ini serius!) xD. Berangkat dari stasiun Pasar Senen, kereta mulai jalan sekitar jam 13.40. Nothing much to tell, altough it’s my first time to travel with train to eastern java. Well, it’s kind of boring actually *you don’t say*.

Tanggal 21 Agustus – Naik!

Tanah Malang kami jejaki esok harinya, sekitar jam setengah 8 pagi. Setelah sarapan dan lain2, kami menumpang—nyarter sih—angkot menuju pasar tumpang. Sampai sekitar jam 10. Di pasar tumpang kami mencari tumpangan lagi untuk menuju Ranu Pane, pos awal pendakian Semeru. Biasanya yang ditumpangi itu bisa jeep atau truk, dan sekali angkut bisa lebih dari 15 orang.

Kami beruntung bisa mendapat Truk, yang relatif lebih murah dibanding jeep. Tentunya isi truk bukan hanya tim kami, seinget penulis ada 3-4 kelompok dengan total sekitar 25-30 orang. Oya, kebetulan banget yang ceweknya cuma dari tim kami aja 2 orang, jd mereka seenaknya duduk di depan, samping pak supir yang sedang bekerja :p. Setelah perjalanan semi off-road di tengah terik matahari yang membuat para pria bersorak ramai di atas truk *lebay*, akhirnya sampai juga di Ranu Pane sekitar jam 12.30.

Kami pun segera bersiap2 di musholla sekitar situ, sholat dulu dan lain-lain sebelum ke pos pendaftaran. Setelah nyetor formulir, kami makan siang dulu ngisi tenaga di warung makan terdekat. Ada beberapa warung di situ yang juga ramai oleh para pendaki lain, entah yang mau naik atau baru turun. Singkat cerita—emang gak ada cerita laen sih—kami pun mulai mendaki sektiar jam 14 dengan target mencapai Ranu Kumbolo sekitar jam 18.

Sebelum pendakian
Yak perjalanan pun dimulai—dengan foto2 tentunya—dan cukup cepat mencapai papan penanda pos pertama. Catatan waktunya ada sih, tapi bukan penulis yg megang. Well, trek pertama ini lumayan jauh, seinget penulis sih sekitar 10,5 km berdasarkan papan petunjuk. Treknya cenderung naik tentu saja, walaupun gak jarang naik-turun. Di sini mulai terlihat kekuatan anggota tim yang tidak merata, bisa jadi dampak dari kurangnya persiapan fisik.

Perjalanan yang awalnya cukup cepat, terus melambat hingga tujuan. Gak bisa dihindari sih emang, karena kita gak bisa ninggalin temen yang gak bisa terlalu cepat. Penulis juga sebenarnya termasuk yang lambat jalannya, mungkin karena beban carrier yang lumayan dan overestimate kekuatan sendiri. Akhirnya kami agak terlambat mencapai ranu kumbolo dari waktu yang direncanakan. Sekitar jam 6 sih kalo gak salah udah keliatan danaunya, tapi ternyata gak sedekat mata memandang.

Saat sudah gelap, kami berada di saung terakhir sebelum rakum, beberapa orang akhirnya pergi duluan untuk mencari tempat kemah. Kami yang belakangan istirahat lebih lama dan siap2 pake jaket+headlamp. Udara sudah cukup dingin, hingga kami jalan cepat menyusul yang duluan. Penulis sempat mengalami keram di betis kanan saat trek turun menuju rakum. Ugh rasanya ada yg mau narik tuh otot keluar *lebay*. Beruntung bisa terobati dengan sedikit counterpain yg sebenernya gak berasa, saking dinginnya udara, dan pijatan brute force.

Akhirnya kami menyusul yang duluan dan sampai di camp site ranu kumbolo. Udah gak mikirin jam lagi, langsung bangun tenda dan masak air hangat. Kemungkinan sampai jam 7 malem sih. Abis minum2 anget, masak terus makan dengan menu nasi+daging, sekitar jam 10an sudah pada masuk tenda buat tidur. Suhu udara gak usah ditanya lagi, mungkin gak jauh beda dari kulkas. Apalagi anginnya, brrrrr...

Tanggal 22 Agustus – Sunrise!

Sunrise di Ranu Kumbolo
Rabu pagi kami menikmati indahnya matahari terbit di Ranu Kumbolo. Tentu saja momen ini gak dilewatkan untuk foto2. Penulis sih sebenernya gak terlalu hobi foto atau difoto, jadinya gak terlalu banyak tampil di dokumentasi :p. Pagi itu kami sarapan dengan menu ikan teri yang sangat tasty sekali. Target jam 9 udah berangkat, tapi seperti biasa selalu meleset :p. Selesai packing lagi dan siap2 berangkat sekitar jam 10 sih kalo gak salah. Tujuan berikutnya: Kalimati dalam 4 jam.

Trek pertama yang dilalui adalah Tanjakan Cinta, tepat di belakang camp site. Entah gimana ceritanya tuh tanjakan dikasih nama begitu. Padahal kan kalo dari atas namanya turunan *gak penting*. Trek ke kalimati ini sebenarnya cukup landai walau terus menanjak. Belajar dari hari pertama pendakian, perjalanan ini banyak mengambil waktu istirahat. Mungkin sekitar 5-10 menit jalan, 1-2 menit istirahat. Entahlah, gak punya jam tangan jadi gak tau persis waktunya.

Mendekati Kalimati
Alhamdulillah banget perjalanan ini terik terus, gak hujan sama sekali. Padahal minggu sebelumnya, sekitar 17-18 agustus, katanya ada badai di semeru. Akhirnya sampai juga di kalimati sekitar jam 2, seperti biasa langsung bangun tenda dan nyiapin makanan. Di kalimati ini sumber air cukup jauh, tapi untungnya ada duo ardan dan ganes yang gak capek2 bolak-balik ngambil air ke sana. Dan tentu saja, udara dingin mulai menyelimuti, padahal terik matahari masih terus membakar kulit. Perpaduan yang aneh memang.

Abis makan2, kami berembuk untuk nyiapin rencana summit attack, alias perjalanan ke puncak pada malamnya. Diputuskan ada 3 orang yg bawa carrier berisi 4 aqua 1,5 liter, ponco, snack2, dan obat2an. Rencana mulai jalan jam 11 dengan target sampai puncak sebelum jam 6. Pada saat itu, kami masih optimis untuk mencapai Mahameru, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi nanti..


Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…