Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Misi : Semeru (3/3-End)

Tanggal 24 Agustus – Turun! Alhamdulillah, setelah beristirahat semalam lagi di Kalimati, kami merasa jauh lebih sehat dan segar. Dengan sarapan sehat berupa martabak mie lezat buatan chef ling dan tsabitah dan teh manis hangat, kami bersiap untuk perjalanan hari ini. Tujuannya satu: kota Malang.
Yak, setelah sarapan dan beres2 tenda de el el, sekitar jam 10-11 kami mulai perjalanan turun ke Ranu Kumbolo. Perjalanan kali ini terasa jauh lebih ringan daripada saat naik *ya iyalah*. Selain karena barang bawaan yang sudah berkurang—beras lebih dikasih ke pendaki lain—mungkin juga karena perasaan cukup puas setelah (mencoba) mendaki mahameru. Satu orang yang kemarin sakit saat muncak pun kini jalannya jauh lebih cepat. Trek ke Kalimati-Ranu Kumbolo pun rasanya gak sejauh saat perjalanan sebaliknya. Kurang lebih dua jam sudah sampai.
Di Rakum, kami istirahat plus plus dulu. Plus sholat plus makan snack maksudnya :D. Nah, pas mau mulai jalan lagi, kami terhalang oleh seseorang yang lagi ngadai…

Misi : Semeru (2/3)

Tanggal 23 Agustus – Summit Attack! Jam 00.00, kami masih berjalan menuju Arcopodo, pos sebelum Mahameru. Treknya cukup terjal dan sempit. Tanahnya sudah berpasir padat, walau pepohonan masih banyak. Sesekali kami dapat melihat langit yang indah dan hamparan kota di kejauhan. Sampai di Arcopodo cukup cepat, mungkin jam 1 atau kurang. Ada beberapa yang berkemah sekitar situ. I wonder, how could they sleep in very cold place like here? Ah, mungkin mereka emang udah biasa kali ya. Nah, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

Awalnya, trek setelah Arcopodo masih mirip, terjal berpasir padat dengan banyak pepohonan. Namun tak lama, trek aslinya mulai dijajaki, pasir+batu minus tanaman. Kalau kamu waktu kecil, atau kapanpun, pernah melihat gunung/gundukan pasir bahan material yang biasanya ada di toko bangunan, kira2 begitulah trek yang dilalui. Tambahkan beberapa batu besar dan kerikil, mungkin bisa jadi miniaturnya. Hanya saja, trek sesungguhnya ialah sebuah gunung vulkanik.

Honestly, it …

Misi : Semeru (1/3)

Bulan Agustus kemarin, penulis melakukan perjalanan mendaki gunung Semeru bersama beberapa teman. Kami satu tim berdelapan, kumpulan anak UI depok, dengan 75% orang2nya adalah angkatan akhir yang akan diwisuda seminggu setelah perjalanan tersebut :D. To be precise, kami berangkat tanggal 20 siang, dan sampai di jakarta tanggal 26 pagi. Dan wisudanya tanggal 29-30, hehe. Detilnya silakan baca terus, akan penulis ceritakan day by day alias per hari. Brace yourself, long post is coming. Mudah-mudahan gak bosen ya :D Tanggal 19 Agustus – Persiapan!Hari Senin sore kami berkumpul di salah satu pojokan IQF di jalan Kapuk, Depok. Agendanya adalah packing dan pembagian barang bawaan tim. Well, nothing special, hal yang biasa dilakukan sebelum naik gunung. Supaya agak panjang dikit, penulis ceritain aja kali ya profil singkat anggota timnya :p Ipin : ceritanya team leader, teman di fasilkom. Sebelumnya pernah ke semeru tp belom sampe puncak. Beberapa kali naik gunung.Hafizh : teman di fasilkom. S…

Salahkah Berdoa?

Doa dan harapan, bagai dua variabel berisi pointer merujuk ke objek yang sama. Artinya? cuma beda istilah, isinya sama. Orang yang punya harapan, hakikatnya dia sedang berdoa. Orang yang berdoa, pasti berharap di dalam doanya. Bedanya, menurut saya, berharap hanya melibatkan diri sendiri, sedang berdoa berarti menghambakan diri pada Ilahi. Ah biarlah, toh maksudnya sama.

Kemarin (sabtu, 31/8) saya membaca postingan dari fan page Tere Liye di FB, seorang novelis Indonesia, yang membahas tentang 'Berdoa'. Saya terhenyak membaca bagian awal-tengahnya, bahkan hingga akhir pun saya masih bertanya-tanya. Hanya paragraf terakhir yang saya pahami, dan sangat setuju seperti biasa. Tapi bagian sebelumnya, apa maksudnya?

Silakan baca post lengkapnya di link di atas. In short, dia mengatakan: seringkali kita berdoa pada Tuhan, memohon yang terbaik, padahal kita sendiri sebenarnya gak tahu apa yg terbaik untuk kita. Kita seringkali menggunakan standar terbaik itu hanya yang menurut kita ba…