Langsung ke konten utama

Jangan Sampai Menyesal..

Kalender buatan di dinding 'ruang kerja' rumah :)

Hai hai, apa kabar (Ramadhan)mu? :)

Yup, sekarang sudah tanggal 27 atau 28 ramadhan nih, tergantung kapan mulainya. Lebaran udah deket! Artinya, ramadhan mau berakhir!!

Harus seneng atau sedih? Entahlah, semuanya ada. Seneng karena akan mudik dan silaturahmi sama kakek-nenek dan keluarga besar, bisa ketemu sepupu yang masih bocah nan lincah, beragam makanan tradisional, dll. Namun sedih juga sih, bulan yang penuh berkah ini udah tinggal bentar lagi :(. Apalagi kata Rasul klo kita tahu keutamaannya, niscaya kita minta setiap bulan adalah Ramadhan.

Sedihnya mungkin karena ane merasa masih sangat kurang maksimal untuk beribadah atau berbuat kebaikan di bulan ini. Tadinya target tilawah sekian, setengahnya aja udah alhamduilillah. Mau nambah hafalan sekian, eh yang dulu2 mesti diulang2 lagi *tepokjidat*. Astagfirullah, padahal udah sarjana..gak terlalu ada hubungannya sih :p. Tapi intinya, banyak target yang masih belum tercapai, padahal Ramadhan tinggal hitungan jari. Sediih :'''(

Oke, mungkin agak lebay. Namun somehow, tahun ini baru bener2 ngerasain Ramadhan sebagai orang 'dewasa'. Gimana ya jelasinnya, intinya sih baru bener2 sadar, ada motivasi dalam diri sendiri untuk 'menimbun' pahala saat Ramadhan. Tahun2 sebelumnyatuh sejujurnya masih banyak terpengaruh sama temen atau murabbi, jadi banyak didorong untuk berlomba2 dalam kebaikan. Namun kini, saat sudah tidak kuliah, mulai kerasa hidup untuk diri sendiri itu gimana. Ketika lingkungan sudah "semau gue", saat itulah keimanan kita diuji. Makanya, sediih banget ternyata masih banyak kekurangan dalam diri.. :(

'Ala kulli hal, jangan sampe nih nyesel banget2 nanti. Seenggaknya manfaatin hari2 terakhir ini untuk mohon ampunan dan ridho Allah Swt, supaya kita terhindar dari api neraka, diberikan rahmat di dunia dan akhirat kelak. Aamin. Who knows, bisa jadi ini Ramadhan terakhir untuk kita..

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…