Langsung ke konten utama

Ge-eR

src: penarevolusi.files.wordpress.com/2012/08/gr.jpg

GR adalah persepsi, dimana persepsi kita atas diri kita lebih baik daripada persepsi orang lain atas diri kita. GR tidak selalu negatif. GR bisa menjadi positif. (Arvin Pradiansyah)
Sadar gak sadar, kayaknya semua orang, termasuk penulis dan pembaca, pernah mengalami yang namanya GR. Eh ngerti ge-er kan ya? hehe, kali aja ada yg belom ngerti. Kalo buat penulis, ge-er itu gampangnya adalah kita merasa menjad orang yg dimaksud orang lain, padahal kenyataanya gak. Atau bisa juga, kita merasa orang lain menganggap kita "begini" or something special, padahal sih biasa aja. Biasa dalam arti, emang tuh orang biasa begitu ke orang lain, atau ya kita yg berlebihan berprasangkanya.

Dari pengalaman penulis, ge-er itu dapat terjadi kapan saja di mana saja. Misal lagi jalan yang ada orang nongkrongnya, pas lewat kita sadar diliatin sm orang itu terus mereka seakan bisik2 gitu. Rata2 respon kita akan mikir, "jangan2 ngomongin gue tuh" atau bahkan "sialan jelek2in gw ya tuh orang". Padahal kan, bisa jadi dia gak sengaja liat kita, terus tiba2 emang pengen bisik2 aja, ya gak tau tentang apa. Persis yg dibilang mas Arvin (kutipan di atas), ge-er itu persepsi. Sedangkan, persepsi itu bisa salah, tp bisa jadi benar juga sih.

Sebenernya sih gak masalah kalo ke-ge-er-an (atau persepsi) kita itu cuma sesaat, atau bahkan emang bener adanya. ya iyalah, nenek2 koprol juga tau xD. Yang kurang baik itu kalau kita over-thinking alias kepikiran mulu tentang persepsi yg belum tentu benar itu. Kadang memang gak terhindarkan sih, terlebih, kalau ge-er nya itu masalah hati..

Yak! sesi curcol akan dimulai, bagi yg gak kuat iman (baca: mudah galau), alangkah baiknya jika menyudahi bacanya xD

Sip, yang lanjut baca antara kuat iman (gak gampang galau) atau stalker yg pengen tahu banget curhatan penulis :p. Gak apa2, semoga ada hikmah yang bisa diambil :)

Kata salah satu senior ane, dalam masalah hati, tepatnya perasaan suka-cinta-sayang dsj, pria adalah makhluk yang paling ge-er. Diperhatiin dikit sama cewek, bisa dianggep 'jangan2 dia ada rasa sama gua', or something like that. Ya emang gak semua cowok sih, tp banyak yg cenderung seperti itu, baik disadari atau gak. Penulis sebagai salah satu cowok, rasanya gak bisa bantah hal itu :D. Kenyataannya, kadang memang gitu sih.

Misal, cowok biasa (baca: suka cewek xD) di-chatting sama cewek, yah nanya random aja, en itu gak sekali dua kali, most likely si cowok biasa itu akan menjadi ge-er. Atau dalam dunia nyata, cowok biasa lagi sendirian tiba2 didatengin cewek terus ngobrol nanya2 sesuatu atau dimintain tolong, dan itu gak sekali dua kali juga, sama, most likely akan muncul ge-er. Rasa ge-er nya itu bisa jd gak disadari, juga bisa jadi cuma sesaat itu aja. Yah ini hipotesis penulis aja sih, boleh percaya boleh gak.

Intinya sih, segala interaksi yg dilakukan oleh seorang cewek itu, bisa jadi sumber ke-ge-er-an bagi cowok. Padahal, ya bisa jadi emang si cewek bersikap begitu ke semua orang. Dengan kata lain, si cowok memiliki persepsi yg berlebihan, dan berharap persepsi itu benar adanya. Walau sudah tahu begitu, tetep aja, ge-er sangat sulit dihindari. Setidaknya, itu yang pernah penulis alami xD

Kalau udah begitu, obatnya cuma satu: ngaca. Literally. Ambil cermin, liat orang di depannya, terus tanya: masa orang kayak gini ada yang mau sih? :p. Agak sarkas sih mgkn, tapi sangat efektif untuk menghancurkan harapan dalam ke-ge-er-an yang dialami :p. Terlebih, menurut penulis, 90% ge-er atau persepsi itu adalah salah. Jadi ya, seringkali emang kitanya aja yang ke-ge-er-an..

Yak, mungkin itu aja yang pengen penulis ceritain. Semoga bisa istiqomah menjaga hati agar tak mudah ge-er apalagi menaruh harapan yang berlebihan. Cukuplah yakin akan pemberian terbaik dari Allah saja yang akan diterima nanti, selama kita tawakal dan melakukan ikhtiar terbaik untuk mendapatkannya :)

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…