Langsung ke konten utama

Monolog #1

Hei, berhentilah menggodaku
Kau bodoh ya? memang itu tugasku

Setidaknya, jangan paksa aku melakukannya
kau memang beneran bodoh atau apa sih? aku tak pernah memaksamu, hanya menyampaikan pendapatku

Bohong, kau pasti membujukku untuk melakukannya
enak aja, memang kamunya aja yg suka melakukan itu, ya kan? ngaku aja deh!

Tidak! aku sudah berjanji untuk tidak melakukan itu lagi!
haha, kau tak bisa membohongiku, semua terlihat jelas di kepalamu

Kau bisa membaca pikiranku?
bodoh, aku sudah lama berprofesi seperti ini, aku sudah hafal tabiat manusia sepertimu

Aku gak percaya, memang apa yang kau tahu tentangku??
cih, mudah sekali ditebak. aku tahu kau pada dasarnya senang untuk melakukan hal itu, walaupun selama ini kau terus berusaha membantahnya. itu memang sudah naluri manusia, kau tak kan bisa mengubahnya.

Grr..baiklah, aku mengaku! aku memang suka itu, apa salahnya??
haha akhirnya kau mengakui juga kan. bagiku tak ada yg salah, justru aku senang kau berpikiran seperti itu..

Apa maksudmu?
yah, aku kan hanya pandai berkata-kata, kau sendiri lah yg melakukannya

Lebih jelas lagi dong! memang apa yg kulakukan?
artinya, kau telah membuat sebuah celah untukku masuk ke dalam dirimu, dan aku bebas mengatakan apapun kepadamu..

Terus?
terus..aku yakin kau akan mengikuti setidaknya beberapa saranku..yang tentunya itu akan tampak menyenangkan untukmu..tapi..

Tapi?
ah kau pura2 tak tahu! ya tentu saja itu sesungguhnya hanya akan merugikanmu!

Kalau aku tahu itu merugikan, ya takkan kulakukan dong!
hah, mengucapkan itu memang selalu mudah, tp aku yakin kau tetap akan melakukannya.

Kenapa begitu??
sudah kubilang tadi, aku sudah hafal tabiat manusia. mudah disilaukan dengan dunia.

Aku bukan org seperti itu!
ckck, kau tak mendengar perkataanku ya, ngomong doang mah gampang. prakteknya? nol!

Kenapa kau bisa yakin?
Ah! kau itu gak pernah anggep serius perkataanku ya?? aku sudah tahu seluk beluk manusia!

Oh, iya iya. Memang apa yg bisa membuatku tetap melakukannya?
heh, kau pikir aku bodoh? mana mau aku memberitahumu

Tadi kau begitu yakin bisa membuatku melakukan apa yg kau bilang, kau takut gagal ya?
cih, pandai juga kau, tp tetap saja kau tak akan lepas dari pengaruhku.
>
Jadi?
sesungguhnya hal itu adalah fitrah manusia. bisa saja mulutmu membantah, tapi tubuh dan pikiranmu tak pernah diam. dan bagaikan aliran sungai, fitrah tersebut selalu berada di persimpangan dua cabang aliran. satu jalur merupakan aliran penuh kebaikan, lainnya, tentu saja aliran yg tidak baik. namun, yg sering manusia tak tahu, kedua cabang tersebut sama persis di awalnya. sehingga dengan begitu, mereka tak pernah sadar sudah berada di jalur yg salah. terlebih lagi, aku menghiasi jalur tersebut, membuat mereka merasa sudah berada di jalur yg benar, namun sesungguhnya, mereka semakin tenggelam dalam kenistaan..

...a a aku tak mungkin terjebak!
katakanlah apa saja sesukamu! aku tahu betul setiap manusia bisa diajak ke jalur yg tak baik itu..hahahahaha

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…