Langsung ke konten utama

The (Incredible) Power of Zakat

Iceberg

Pernah mendengar istilah fenomena gunung es (iceberg)? Anggap aja pernah deh ya, hehe. Intinya, suatu fenomena dimana yang terlihat di permukaan hanya sedikit, namun sejatinya yang tak terlihat jauh lebih banyak. Terus kenapa? Nah saya jadi berpikir, rasanya realisasi zakat di Indonesia tampaknya cocok nih dengan fenomena gunung es ini. Bagaimana tidak, orang Indonesia kan sebenarnya banyak orang kayanya apalagi di Jakarta, tapi kok masih banyak ya pengemis sama anak jalanan gitu, lah mana tuh aliran zakatnya (kalau memang ada)? Nah kalau memang semua orang (yang Islam tentunya :) bayar zakat, harusnya sih ya gak ada lagi pengemis di pinggir jalan dong. Wuih, sok tahu banget ya saya? ah enggak, saya emang punya alasan kok, mungkin situ yang sok tahu..hehe
Alasan pertama saya nih, sesungguhnya potensi zakat di Indonesia itu sampai 100.000.000.000.000 (seratus triliun) loh! Iya, seratus triliun! Hitung aja nol-nya ada 14, hehe. Cih, memang kata siapa? mana datanya? wuih kritis banget nih pembacanya, ya saya sih mengutip Wakil Presiden kita, Pak Boediono, waktu beliau membuka acara konferensi Zakat Internasional di kampus IPB, 19 Juli kemarin. Beliau menyatakan, menurut hasil penelitian Asian Development Bank, potensi zakat Indonesia mencapai 100 triliun (tahun 2010). Silakan aja cari beritanya di om google :D. Tuh kan apa kata saya, masa Pak Boediono bohong sih, nanti diganti lagi wakil presidennya..*ups, bercanda pak! xD
Terus alasan kedua, realisasi zakat di Indonesia pada tahun 2010, hanya mencapai 1,2 T, tidak sampai 2% dari potensinya! Lagi – lagi ini bukan saya yang bilang lho, saya hanya mengutip aja dari Pak Naharus Suhur, beliau ini Wakil Ketua Baznas. Masih gak percaya? tanya om google lagi dah sana, tapi kalau saya sih langsung klik link sumber di bawah tulisan ini..hehe :D
Dari dua hal itu aja, saya berani jamin bahwa realisasi zakat di Indonesia merupakan fenomena gunung es. Gunung es mananya? yah memang agak beda sih maknanya. Analoginya, penampakan gunung es di permukaan yang sedikit itu adalah realisasi zakat. Lalu gunung es yang ada di bawah permukaan, yang besarnya gak kira – kira, itulah potensi zakatnya. Gitu loh, masa gak ngerti juga sih..:p
Kawan, selain analogi itu, saya juga berani menyatakan bahwa sebenarnya kekuatan zakat adalah fenomena gunung es pula. Perumpaannya seperti ini. Kita sama – sama tahu zakat adalah sebagian harta kita yang harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya, kita namakan saja golongan tidak mampu. Secara langsung yang bisa kita lihat, zakat kita dapat membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun yang kita tak lihat namun memiliki dampak maha dahsyat untuk perekonomian suatu negara, sesungguhnya ada dan nyata pernah terjadi di dunia ini.
Kurang percaya? ya sudah, baca aja deh sendiri..
Zakat yang diberikan kepada golongan kurang mampu akan menaikkan daya beli masyarakat. Iya kan, kalau orang miskin dapat bagian zakat, tadinya makan aja susah, alhamdulillah jadi bisa beli beras untuk keluarga. Kalau ini terus – menerus terjadi, pada tiap golongan yang memang berhak mendapat zakat, maka secara ekonomi permintaan pasar akan meningkat. Permintaan pasar yang meningkat ya jelas harus diiringi peningkatan suplai dari produsen. Nah di sini pilihannya ada dua, produsennya tetap tapi produksinya meningkat, atau produsennya juga meningkat agar produksinya meningkat pula. Yang mana pun akan berdampak positif untuk masayarakat, yaitu membuka lapangan kerja lebih banyak. Jika golongan tidak mampu tersebut dapat bekerja, tentu saja pada akhirnya dia akan menjadi orang mampu. Orang yang mampu tersebut akhirnya membayar zakat juga, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya, tidak akan ada lagi orang tidak mampu di negeri ini! Luar biasa!!
Mudah – mudahan para pembaca ngerti ya, teori ekonomi sederhana lah itu. Ah tapi masa sih bisa begitu? kayaknya terlalu mudah deh. Atau mungkin menurut kamu yang mahasiswa ekonomi, gak semudah itu! ada faktor ini faktor itu nanti jadinya begini terus begitu blablabla. Biarin, yang penting saya tahu dan percaya hal ini pernah terjadi sekali di masa lalu, di zaman kekhalifahan Umar bin Abdul Azis.
Ya benar, saat Islam masih dalam bentuk kekhalifahan, dunia pernah mengalami kemakmuran sejati yang diimpi – impikan semua negara saat ini. Khalifah Umar lah yang membuatnya seperti itu. Ia dengan tegas menarik zakat, pajak, dan jizyah dari orang – orang kaya, dan membagikannya kepada golongan yang berhak menerimanya. Dan teori ekonomi sederhana di atas pun terjadi, tidak ada lagi orang tidak mampu alias penerima zakat. Semua orang hidup berkecukupan tanpa terkecuali, padahal wilayah kekhalifahan begitu luas, lebih luas dari Indonesia. Bahkan petugas zakatnya aja bingung mau ngasih zakat ke siapa. Malahan surplus tersebut jadinya dijadikan pembiayaan sosial, termasuk untuk kaum muda yang ingin menikah. Tuh, sampe mau nikah aja dibiayain, bukan gratis lagi!
Sobat, itulah sisi yang tidak terlihat (secara langsung) dari zakat, sebuah kekuatan ekonomi maha dahsyat, layaknya bagian gunung es yang tak terlihat di permukaan. Indonesia yang begitu besar potensi zakatnya, sangat mungkin menjadi negeri seperti yang pernah dicapai Khalifah Umar bin Abdul Azis, sebuah negeri makmur dan sejahtera yang absolut. Visi ini tentu hanya akan dapat diraih, saat kita sendiri yang memulai untuk menunaikan zakat kita, walau mungkin kecil namun rutin, insya Allah akan berkembang sedikit demi sedikit untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Zakat, tak sekedar menyucikan jiwa dan harta kita, namun menjadi batu bata penyusun pondasi untuk kehidupan yang sejahtera untuk generasi penerus kita nantinya.

Yahya Muhammad, 2011.

Referensi:
Potensi Zakat Indonesia Tahun 2011 Mencapai Rp. 217 Triliun 
Potensi Zakat di Indonesia Capai Rp 100 T 
Mengupas sejarah reformasi ekonomi Umar bin Abdul Aziz, dan mengapa kita gagal?

Sumber Gambar:
http://1.bp.blogspot.com/-nkD6komdtuk/ThBXYZQtrLI/AAAAAAAAAM8/0cQ1ppS8FdI/s1600/iceberg.jpg

Komentar

  1. Emang benar sekali...

    ORANG-ORANG yang kayak itu harus banyak bayar zakat or sedekah...

    Apalagi sekarang adalah bulan suci Ramadhan..

    BalasHapus

Posting Komentar

silakan komentar

Postingan populer dari blog ini

Knowing

Hari rabu minggu lalu, entah setelah berapa lama akhirnya penulis berkesempatan untuk menonton bioskop lagi. Mungkin sudah lebih dari setengah tahun kali ya, selama itu nonton film ‘bioskop’nya di kelas atau gak laptop sendiri, hehe. Lumayan menghemat loh, misalkan paling murah tiket bioskop 10.000, sebulan paling gak ada satu film baru yang wajib tonton, 6x10000= 60.000! belum lagi ongkos, snack atau makannya, minum juga pastinya, benar2 menghemat kan. haha, perhitungan banget ye. Apapun itu, film yang berhasil ditonton minggu lalu adalah Knowing. Ada yang unik saat memutuskan untuk menonton film ini. Begini ceritanya, penulis memilih bioskop yang paling dekat rumah untuk menonton (hidup cijantung!), dan kebetulan film yang diputar salah satunya adalah Knowing. Ternyata Knowing itu satu-satunya film produksi luar negeri yang ada di daftar main bioskop itu, lainnya film dalam negeri. Sekedar informasi, di daerah sini memang yang lebih laku itu film lokal, film hollywood gitu cuma sedi

Daftar Pranala Blog-nya anak Jagung

Yak berikut daftar pranala blog anak fasilkom ui 2009 alias Jagung. Dicari dan diambil dari berbagai sumber secara brute force. Yang diambil adalah blog dengan domain sendiri atau yang ada di blogspot, wordpress, blogsome, deviantart, tumblr, .co.cc, dan livejournal. Selain itu seperti formspring dan twitter tidak dimasukkan karena kayaknya bukan termasuk kategori 'blog'. Kalau ada yang ingin menambahkan atau justru tidak ingin dimasukkan, feel free to contact me :)

Resensi: La Tahzan for Love

  Identitas buku Judul : La Tahzan for Love Judul Asli : Khaifatun Min al-Hubb Penulis : Najla Mahfudz Penerbit : Akar Media Sebuah buku yang berisi tentang berbagai macam cerita mengenai lika-liku kehidupan remaja. Salah satu seri dari buku berjudul ‘La Tahzan..’ ini mengkhususkan pembahasan tentang sebuah perasaan yang dialami semua orang, cinta. (liat dari judulnya juga bisa kan? hehe) Sejak Adam dan Hawa diciptakan, persoalan mengenai cinta selalu mewarnai kehidupan umat manusia. Cinta dapat memberikan perdamaian di muka bumi ini, namun cinta pula dapat menjadi penyebab hancur leburnya dunia di tangan manusia. Cinta atau kasih sayang bagai mawar merah yang indah, dia dapat memberikan kenyamanan untuk siapa saja yang melihatnya tetapi dia juga dapat melukai kulit bila kita tidak hati-hati dengannya. Terlebih lagi di jaman sekarang, para remaja yang sedang mencari jati diri sering merasa tersiksa akibat pengertian cinta yang salah. Mereka yang belum mengenal dan mencoba untuk