Langsung ke konten utama

BRB (Bukan Review Biasa) Introduction

Yuhuu..kali ini penulis akan mulai merealisasikan salah satu daftar kegiatan pengisi liburan seperti yang tertulis di postingan sebelumnya, yaitu mereview film! Nah setelah dipikir-pikir, ternyata banyak juga nih film-film yang udah penulis tonton di laptop, mungkin ada sekitar 50 judul kali ya? Thinking fyi, sebagian besar , itu adalah hasil download sejak kuarter terakhir tahun 2008. Sisanya adalah dvd, yang udah ilang-ilangan sekarang. Sebagian besar tentunya sudah ditonton, namun hanya secuil yang berhasil penulis buat review-nya selama ini. Oleh karena itu, supaya film-film itu bermanfaat tidak hanya saat ditonton namun juga setelahnya dan (mungkin) bermanfaat untuk orang lain pula, maka penulis akan membuat review semua film itu! Gym Sebelumnya, mungkin ada pembaca o’on yang bertanya-tanya, ngapain sih harus direview? Yah untuk penulis sendiri sih keuntungan mereview itu cukup banyak loh. Nyadar gak sih kalo pas nonton film tuh otak kita cenderung pasif? Iya kan, pas nonton sendiri atau berjama’ah kek pasti kita gak akan banyak omong atau gerak kesana-kesini (kecuali lo pecicilan dancing), hanya duduk, melihat tampilan gambar, mendengar suara adegannya, dan membaca subtitle untuk sebagian film/orang. Nah dengan mereview berarti kita mau gak mau harus mengingat kembali jalan ceritanya, bagaimana alur cerita dan hikmah ataupun pesan yang didapat ketika nonton film tersebut. Itu bisa membuat otak menjadi aktif, dimana otak dipake buat ngolah informasi yang sudah masuk. Di samping itu, kemampuan untuk mengolah kata atau kalo gak salah istilah kerennya tuh kecerdasan linguistik nya kayaknya sih bakalan meningkat thumbs up. Semakin banyak menulis, biasanya sih tuh orang jadi makin jago kan bikin tulisan. Contohnya ya gak usah jauh-jauh lah, penulis blog ini misalnya raditya dika misalnya. Dengan begitu acara menonton tidak hanya menjadi pemuas kesenangan (baca hedon :p) saja bukan? Ya pokoknya gitulah, kalo masih penasaran kenapa harus review, penulis tunggu di perempatan lampu merah ye! Jangan sampe dateng lo ye.. tongue Buat yang hobi nonton atau gak hobi tapi suka nonton film, coba deh bikin review singkat semua film yang pernah ditonton itu. Jangan Cuma komentar singkat “bagus bangetz..!!” “keren abiez nih film!” “sumpah lo harus nonton film ini!” “gak sabar nunggu sekuelnya” “film terbaik yang pernah gw tonton nih” “dua jempol gan!”, de el el. Banana Lv 2 Oya, karena saking banyaknya film yang akan direview, maka penulis mengeluarkan kebijakan untuk membuat short-reviewnya saja di blog ini. Short-review tersebut akan berisi amat-sedikit-sekali alur ceritanya, opini penulis sendiri, dan hidden-treasure, yaitu pesan atau hikmah yang penulis dapatkan dari film tersebut. Lalu satu postingan akan memuat sekitar 3-5 judul film. Review lengkap (insya Allah) akan ditaro di blog satu lagi, doain aja ye gak males bikinnya. Worship

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…