Langsung ke konten utama

Week 2 Part.1 – A New Skill (10-16 agustus)

Minggu kedua kegiatan mahasiswa baru, tidak ada latihan padus, tapi belajar. Belajar? Ya, belajar tentang cara belajar. Semacam pembekalan skill belajar saat kuliah nanti. Nama kegiatannya Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM). Dalam kegiatan tersebut, kami diajarkan metode belajar Collaborative Learning dan Problem Based learning (PBL), teknik mencari sumber informasi (Information Literacy/IL), penggunaan komputer sebagai media belajar (Computer Mediated Learning/CML), dan yang paling penting Learning Skill (LS). Semua mahasiswa baru yang S-1 reguler dibagi ke dalam 3 kelompok besar, yang masing-masing dipecah lagi menjadi dua. Jadi ada grup G1a, G1b, G2a, G2b, G3a, G3b. Dari kelompok itu dibagi lagi per kelas, isinya sekitar 30 orang. Nah untuk minggu yang ini cukup banyak yang penulis alami dan ingat, jadi agak panjang nih ceritanya.. Hari-1 Materinya CL, lokasinya di FT. Waktu berangkat kirain tempatnya di FISIP dulu, eh untung ada temen yang sama jadwalnya ngingetin kalau hari pertama di FT, gedung K ruang 102a. Saat awal masuk kelas agak membingungkan karena dalam satu ruangan ada 2 kelas, tanpa sekat pemisah. Jadinya salah satu kelas pindah ruangan deh, sisanya tetap di situ, tentunya penulis kelas yang gak pindah dong..hehe. Pengajar/fasilitator untuk materi CL ini sepertinya adalah seorang dosen senior. Ibu-ibu gitu deh, keliatannya sih sudah tua. Suaranya kencang tapi agak kurang jelas gimana gitu. Pertama2 kami dikasih semacam permainan bingo. Tiap anak dapet kertas berisi kotak-kotak dengan ukuran 5x5 kotak, di dalam kotaknya terdapat tulisan-tulisan mengenai sesuatu. Cara mainnya, setiap kotak harus diisi nama orang yang sesuai sama tulisan di dalam kotaknya. Contohnya tulisan ‘belum pernah naik transjakarta’, nah cari deh orang yang belum pernah terus tulis namanya. Gamesnya seru abiez, jadi kenal sekelas walaupun gak semuanya inget. Dan baru tau, ternyata ada cewek yang gak suka nonton infotainment..mantapz. Terus diajarin deh metode belajar CL. Metodenya keren juga nih secara teori, secara praktek tentunya jauh lebih keren. hehe..Metode CL ini nantinya akan dipakai untuk mata kuliah dasar yang akan dipelajari oleh semua mahasiswa baru semua fakultas. Yang pasti CL ini bener-bener baru buat penulis, belum pernah nemu sebelumnya. Semoga aja prakteknya nanti bisa berjalan lancar.. Hari-2 Materi CML-IL. Pagi-pagi CML dulu di Perpustakaan UI Pusat, labkom PDPT. Di sini kami diperkenalkan tentang JUITA, jaringan UI terpadu. Ternyata itu adalah sebuah jaringan komputer yang berisi berbagai macam fasilitas dan layanan yang terhubung satu sama lain. Semua fasilitas yang disediakan untuk menunjang infrastruktur kampus memiliki domain di web UI (*.ui.ac.id). Terus dikasih tahu tentang hotspot di UI. Setiap perangkat harus didaftarkan dulu untuk bisa mengakses internet menggunakan hotspot UI. Yang bikin enak sih tempatnya nyaman, kelasnya gak rame, komputernya berlebih, en fasilitatornya cantik-cantik. hehehe.. Kalau tidak salah mereka masih mahasiswa juga, tapi tingkat akhir gitu. Setelah istirahat siang, lanjut deh materi IL. Berlokasi di FKM, gedung paling belakang (ged.G), kelas pojok kanan atas (r.402). :) Materi yang ini agak boring, tentang pencarian sumber informasi valid yang dapat dijadikan acuan atau referensi untuk mengerjakan tugas atau apapun nanti. Dibahas juga tentang plagiasi, teknik mencari informasi yg efektif, pemilihan sumber informasi yg akurat, dll. Bagus sih materinya, tapi yang menjelaskan bikin ngantuk. Yah semoga aja nanti gak terlalu banyak nyari sumber-sumber informasi..hehe Hari-3 Learning Skill! Nah yang ini baru kerasa asyik materinya. Di kelas ini juga baru tau siapa aja teman sekelas yang fix. Waktu CL, CML, IL itu kan kadang masih ada yang salah kelas gitu. Di absensi kalau tidak lupa ingatan sih ada 30 orang deh, coba penulis inget ya nama-namanya. Yang cowoknya, ada Arya, Satria, Al, Ambar, Asfir, Dimas, Fikri, Cikal, Hezki, Rois, Samuel, Ridho, n penulis sendiri tentunya. Ceweknya: April, Eva, Putu, Vinda, Xandra, Ela, Wening, Ica, Rica, Soffah, Dira (kembarannya Dita 8’09), Vini, Meli (kembarannya imel bukan ya? mirip banget), terus siapa lagi ya..wah maaf deh kalau ada yang lupa disebut. (siapa juga yg bakal baca ini :p) Di LS ini fasilitatornya ada dua, kak Jarwo dan kak Fitri. Dua2nya mahasiswa dari fakultas psikologi, memang bidangnya sih ya. Materi diawali dengan games baris-berbaris. Kami semua dibagi 4 kelompok, terus disuruh baris biasa dulu. nanti salah satu kakaknya akan memberikan instruksi untuk mengurutkan barisan. Instruksinya macem2, ngurutin dari tinggi badan, nomor pertama NPM, nomor terakhir nomor HP, sampe asal daerah dari timur ke barat. Enaknya LS, banyak games dan simulasinya jadi gak cepet bosen atau ngantuk. Di pertemuan pertama itu (kalau tidak salah ingat) diajarin tentang berpikir kritis dan alur logis. Katanya sih, dosen tidak mengajar keseluruhan materi, jadi kita sendiri yang harus bisa menemukan pertanyaan agar semua pengetahuan dosen bisa kita dapatkan. Intinya, jangan langsung nerima gitu aja bila ada suatu informasi baru yang masih kurang jelas. Harus kritis, tanya apa,kenapa,siapa,kapan,dsb. Juga berpikir dengan alur logis. Misal seseorang menekan saklar lampu, terus lampu mati. Apa yang menyebabkan lampu itu mati? Apakah karena saklarnya dipencet orang? Ternyata bukan itu jawaban yang tepat. Sebenarnya yang terjadi adalah saklar ditekan, arus listrik putus, lalu lampu mati. Jadi yang menyebabkan lampu mati itu ya karena putusnya arus listrik. Bener kan? hehe.. Penulis jadi sadar, selama ini kita sering kali hanya melihat sesuatu itu awal dan akhirnya saja, tidak melihat alur yang sebenarnya..sehingga kita terkadang menyalahkan sesuatu karena ketidakpahaman kita mengenai alur tersebut..

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…