Langsung ke konten utama

Week 1 – The Beginning (3-9 ags)

Pada awal Agustus penulis kembali mendengar kabar gembira: ada yg diterima di UI lagi dari SMAN 8 Jakarta. Walaupun tidak banyak (karena lebih banyak dari simak & umb), tapi mereka berhasil melalui sebuah perjuangan yang sangat berat. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan standing applause (emang acara tivi..). Mereka yang melalui jalur SNMPTN itu daftar ulang tanggal 6, sedangkan yang UMB tanggal 4, tepat hari pertama latihan paduan suara UI. Jadwal yang tertera pada buku panduan maba yang berwarna kuning (bukunya yg kuning, bukan mabanya..) tertera latihan padus tanggal 4-8, busyet dah ngeliat jadwalnya aja bikin males tuh.

Pada kenyataanya, acara padus tidak terlalu buruk juga sih. Setiap hari ada aja hiburan yang dibuat sama pak Dibyo, instruktur padus UI seumur hidup. Ada yang disuruh nyanyi, baik maba ataupun senior—dari 8 ada 2 orang yang nyanyi loh, si baby en fienda—ada juga anak-anak daerah yang dipanggil ke depan, disuruh nampilin sesuatu, nyanyi atau nari. Yang lucu, kalau ada yang terlambat datang ke balairung tempat padus, dipanggil juga ke depan disuruh nyanyi lagu Genderang UI. Ada orang yang dipanggil gitu, terus nyanyi eh nadanya salah, diketawain deh. Akhirnya dia setiap hari dipanggil ke depan sama pak dibyo buat ngecek perkembangan latihan padusnya..hahaha

Walau ada aja hiburannya, tetep aja pas 4 hari padus mulai bosen bin males. Hari pertama kedua mungkin hampir semua maba hadir. Tapi seterusnya sudah makin dikit aja yang ikut. Alhasil pada hari sabtu tgl 8 cabut juga deh. Cabutnya bareng si Yoi, pergi ke SMAN 8 untuk menghadiri suatu acara. Eh kebetulan hari sabtu itu juga ada briefing pertama fasilkom jam 3, langsung deh selesai dari 8 cao ke UI naik motor berdua. Fyi, walaupun udah beberapa kali naek motor dari 8 ke UI atau sebaliknya, tetep aja *maaf* bokong terasa pegal2 pas nyampe..hehe

The Briefing

Maba fasilkom 2009 diabsen dan dibagi ke dalam 7 kelompok besar. Penulis dapet kelompok 7. Anak 8 yang berjumlah 8 orang di fasilkom kebanyakan pada nyebar. Phewe kel.5, Yoi kel.2, Febi,Edo kel.(lupa). Kelompok 3 tuh baru banyak ada 3 orang, si Ririn, Fitri, en Arini.

Seperti briefing pada umumnya, ada briefing ada tugas. Nah tugasnya ada yang individu sama kelompok. Yang individu, bikin buku angkatan, isinya data se-angkatan 2009+ttd, terus bikin nametag dengan format yg ditentukan. Fasilkom paling keren dah nametagnya, udah kaya nametag panitia2 gitu, gak aneh-aneh kaya fakultas laen. Terus yang kelompok disuruh bikin buku dokumentasi kelompok, parodi dan mading imajinasi. Capek ah kalau jelasin deskripsi tugas-tugasnya. Lagipula, siapa juga yang mau baca ye. Hari Sabtu diakhiri dengan rasa tidak sabar untuk mengerjakan tugas-tugasnya..

Hari Minggu, program cinta kampus. Agak aneh nih yg ini. Dibilangin sih acara utamanya mencintai lingkungan UI dengan cara melepas burung di kawasan UI. Entah apa hubungannya? btw, yang dilepas itu burung beneran, bukan mainan atau yg lain loh. acaranya di stadion UI. Ternyata pagi-paginya kami senam dulu dengan instruktur senam asli, seorang mbak2 (atau ibu2 ya?) dengan pakaian senamnya. Untung aja penulis ada di belakang, gak terlalu keliatan instrukturnya. Kalau tepat di depan instrukturnya, wah susah deh jaga mata. wkwkwk.. Udah capek senam, ada sedikit sambutan dari perwakilan Rektor. Baru deh burung-burungnya dipegangin, terus dilepas dalam hitungan ke-3. Selesai acara.

Setelah bubar program cinta kampus, maba fasilkom ngumpul2 dulu buat bahas tugas-tugas yang baru dikasih. Cukup panjang dan mendalam pembahasannya, namun alhamdulillah lancar dan terlihat sangat kompak. Awal yang bagus untuk lingkungan yang baru. Overall, minggu awal masih terlihat datar2 aja sih sebenernya. Petualangan yang sesungguhnya belum dimulai saat minggu ini. Mungkin dapat dikatakan, ini cuma introduction nya doang. Hanya perkenalan untuk menghadapi kenyataan yang akan dihadapi..

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…