Langsung ke konten utama

Transformer 2: Revenge of The Fallen

Director: Michael Bay Genre: Action | Adventure | Sci-Fi

Sekilas Info

Film ini sebenarnya rilis tanggal 24 Juni. Namun tahukah Anda, penulis baru menontonnya hari Minggu kemarin, iya tanggal 26 Juli. Jangan kaget gitu dong, maklum lah penulis kan bukan anak gahul ataupun film lover banget. Apalagi waktu baru-baru muncul filmnya lagi gak punya duit dan bioskop di deket rumah masih belum ada tuh film Transformer 2. Baru adanya pas tanggal 23 atau 24 Juli gitu, memang unik sekali bioskop satu ini. Walaupun hari Minggu kemarin itu baru aja pulang dari rantauan selama 4 hari, ditambah badan lagi gak fit banget karena kecapekan, dipaksain aja deh buat nonton tuh film, udah ngebet banget gitu deh. Takutnya besok-besok tuh film udah menghilang lagi terus sakitnya tambah parah. Akhirnya dengan izin Allah Yang Mahakuasa, penulis berhasil menonton film Transformer 2 sampai selesai dan pulang dengan semangat. Dan seperti biasa, penulis akan sedikit membuat resensi mengenai film yang baru saja ditonton.

Balas Dendamnya Si Jatuh

Film ini merupakan sekuel dari film pertamanya yang rilis (kalo gak salah) tahun 2005. Waktu itu tema filmnya adalah ‘Our World, Their Wars’, yang artinya? tanah, tanah kita kok mereka yang berantem? Pada debutnya, film ini sangat dikagumi dan dipuji oleh banyak pihak termasuk para kritikus film. Bagaimana tidak, penggunaan teknologi mutakhir untuk pembuatan imej para robot yang terlibat dalam cerita dan perpaduannya dengan aktor dan setting yang asli menghasilkan sebuah film yang sangat luar biasa. Terlebih lagi belum ada rumah produksi lain yang menggunakan teknologi CGI () dengan kerumitan seperti itu. Detail-detail bentuk robot sangat diperhatikan, juga transformasi bentuk dari bentuk asli menjadi sebuah kendaraan ataupun sebaliknya dibuat sangat halus. Jadi jangan heran bila kita menganggap hal itu seakan-akan ada dalam kehidupan nyata. Keren abis dah rekayasanya. Yah mungkin sih bakalan ada di dunia nyata, tapi 100, 200 tahun lagi kali ya? Nah di filmnya yg ke-2, tentu saja tampilan graphic atau visualnya dibuat gak kalah keren sama yang pertama. Kali ini robot-robotnya lebih banyak dan variatif—bahkan ada yang bentuk manusia, aksi-aksinya pun jauh lebih banyak dan mantap dari yang dahulu. Sesuai subjudulnya, film ini bercerita tentang balas dendamnya pihak yang jatuh. Bukan jatuh kesandung ataupun sudah jatuh ketiban tangga, bukan itu. Pihak yang jatuh alias The Fallen dan Decepticon ini merupakan musuh bebuyutan dari koloni Autobot yang dipimpin oleh Optimus Prime. Panjang deh cerita asal-usulnya mereka jadi berantem gini, namanya juga anak-anak kali ye waktu dulu. Dari sisi graphic atau scene tampaknya sudah cukup jelas lah ya, keren. Settingan scenenya mantap, pas adegan para autobot-the fallen berantem tuh ledakan2, asep (tapi bukan show), pohon rusak, bangunan roboh, pokoknya yang gitu2 pas banget dibikinnya. Wew, kapaan ya di indonesia bisa bikin film kaya gitu..sigh. Apalagi salah satu lokasi syutingnya di Mesir, tepatnya piramida Giza kalau gak salah sih. Nah kalau dari ceritanya, ya boleh lah dibilang menarik. Standarnya film hollywood, tapi jauh lebih bagus dibandingin sinetron indosiar yang mengadopsi ‘monster-monster’ ataupun film-film Indonesia yang gak jelas gitu. Pihak yang pernah kalah a.k.a The Fallen dan anteknya Decepticon ingin kembali merebut kekuasaan di bumi dan mengalahkan para Autobot. Mereka mengincar sebuah sumber kekuatan bagi mereka agar bisa kembali berjaya, dan ternyata itu adalah matahari! Flashback singkat perjalanan para transformer di bumi kita menceritakan awal mula perang yang terjadi di antara mereka. Ada segolongan transformer yang ingin ‘memanen’ matahari kita untuk sumber energi, namun hal itu ditentang yang lainnya. Nah Si Jatuh—The Fallen—ini mau mengkomplitkan rencana ‘manen’ itu sekarang. Alat untuk itu dari dulu udah ada, ternyata itu adalah *piiip*. Yang belum ada yaitu ‘kuncinya’, diumpetin supaya gak bisa dipake tuh alat. Eits, daritadi robotnya mulu yang diceritain ye. Manusianya, sebagian besar porsi utamanya masih dipegang sama si Sam Witwicky. Pacarnya juga masih ada, Mikaela. Yang benar-benar baru dan cukup berperan ada tuh si Leo, teman sekamarnya Sam di college. Interaksi para aktor aslinya ini tipikal film hollywood lah, yang pacaran ya cium-ciuman, kehidupan kampus digambarkan begitu hedon, orang tua yang khawatir, militer gitu-gitu aja, pejabat sok tahu yang tiba-tiba berhentiin operasi, humor-humor ringan penghilang ketegangan, dsmcamnya. Dua hal yang pertama disebut, itu tuh yang membuat penulis ter.. apa ya nyebutnya, termenung kali ya.

Sebuah catatan..

Di Indonesia film ini masuk dalam rating Remaja. Namun itu masih sangat tidak jelas, berapa rentang umur yang dibilang remaja? Walaupun begitu, pada prakteknya tetap saja banyak anak-anak (umur <11 tahun) yang menonton film itu. Mereka tertariknya ya pasti karena ingin melihat robot-robotnya, ceritanya sebagus atau sejelek apa pun kayaknya gak ngaruh. Nah masalahnya, dalam film ini ada adegan ciuman sepasang kekasih loh dan adegan lain yang masuk kategori ‘hedon’ dan ‘nyaris’. Percaya gak percaya, inilah salah satu cara ‘kaum pintar’ untuk mem-brainwash dunia, terutama anak mudanya. Target spesifiknya mungkin adalah para pemuda di negara ketiga, termasuk Indonesia. Mereka tahu betul, untuk ‘menghancurkan’ suatu bangsa, para pemudanya lah yang harus dirusak terlebih dahulu. Sadar gak sih, hampir di semua film hollywood yang ditujukan untuk 15 tahun ke atas, minimal ada adegan pacarannya, kayak mouth to mouth gitu deh. Untuk yang gemar menonton pasti ngerti lah ya, apalagi kalau film yang belum disensor di Indonesia. Hebatnya mereka, adegan seperti itu dikemas dengan menarik, seakan itu termasuk alur cerita yang penting dan hal seperti itu biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Mungkin itulah salah satu penyebab makin maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja dan pemuda Indonesia. Gimana jadinya kalau yang menonton film seperti ini anak-anak? beuh bisa lebih parah kalau gak ada bimbingan dari orang tua. Kondisi secara umum para muda-mudi Indonesia yang kurang berpendidikan dan memiliki basic/pegangan untuk memfilter budaya menjadi alat untuk pihak lain merusak bangsa ini. Entah sampai kapan hal ini akan terus berlangsung, dan apa yang akan terjadi nantinya dengan bangsa ini bila hal-hal di atas terus berlangsung. Apalagi kini para sineas dalam negeri pun kadang mengkritik lembaga sensor karena tidak memberi izin tayang suatu film ataupun terlalu banyak memotong adegan tak pantas dengan dalih keutuhan cerita dan apresiasi karya seni. Tak akan ada habisnya bila kita diskusikan mengenai mana yang salah dan benar mengenai hal ini. Lebih baik kita, mulai dari diri sendiri, terus berusaha untuk meningkatkan kualitas diri, memperbaiki akhlak kita, agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain yang ingin menguasasi kita. Sesungguhnya Al-Haq (benar) dan Bathil (salah) sudah jelas bagai putih dan hitam, namun hawa nafsu kita lah yang sering membuatnya abu-abu.

Hikmah

Terlepas dari ‘misi’ tersembunyi dalam sebuah film, selalu ada hikmah yang dapat diambil. Pun dalam film transformer ini, ada beberapa poin yang bisa kita jadikan hikmah dalam ceritanya. Pertama, mengenai rela berkorban. Optimus Prime sang pemimpin Autobot sangat melindungi tokoh utama, Sam. Terlebih lagi para musuh kini mengincar dia, lebih tepatnya ‘otak’ Sam. Optimus sangat membela umat manusia sehingga mau bekerja sama dengan militer dan rela bergerak sendiri untuk melindungi Sam. Hingga klimaksnya, Optimus mati setelah dikeroyok sama decepticon saat ingin menyelamatkan Sam. Padahal Optimus termasuk transformer, namun dia lebih memilih untuk berkorban demi kepentingan umat manusia daripada dirinya sendiri. Walaupun ada saja manusia yang merusak buminya sendiri dan ‘mengusir’ para Autobot. Kedua, kepercayaan. Si Sam pada awalnya dimintai tolong oleh Optimus untuk memperingatkan pihak militer akan kedatangan The Fallen, namun dia tidak mau. Namun setelah dia menyaksikan sendiri pengorbanan Optimus untuk menyelamatkan dirinya, gak mikir lagi dia langsung berusaha untuk menebus kepercayaan The Prime. Dibantu pacar, teman baru dan lamanya juga 3 autobot, mereka berusaha untuk menemukan petunjuk mengenai apa yang diincar oleh The Fallen. Walaupun seluruh agen FBI dan CIA sedang memburu mereka, dengan perjuangan panjang dan melelahkan mereka berhasil menemukan jawabannya. Sam menjadikan kepercayaan Optimus sebagai motivasi utama dirinya untuk terus bergerak apapun yang terjadi, bahkan bila nyawa sudah meregang. Kepercayaan adalah amanah, yang memang harus benar-benar dilaksanakan. Mungkin kita patut meniru perjuangan Sam dalam menjalankan amanahnya, sesulit apapun jalnnya. Terakhir, pemanfaatan potensi to the max! Pihak manusia dan Autobot sepeninggal Optimus Prime sangat kewalahan menghadapi gempuran The Fallen dan anak buahnya. Mereka hanya dapat bertahan dan menunggu Sam untuk menjalankan rencananya. Walau begitu, mereka tidak pernah patah semangat dan terus berjuang menggunakan setiap potensi yang ada. Rudal-rudal angkatan udara dihabiskan untuk mengcounter Decepticon, senjata pemusnah jarak jauh dipakai untuk melumpuhkan yang paling gede, bom-bom udara dijatuhkan untuk menghancurkan yang tersisa. Semua penggunaan potensi senjata dan kerjasama yang baik membuat mereka memenangkan pertempuran yang awalnya sangat jomplang ini. Tampaknya hal seperti itulah yang kita butuhkan, untuk membuat perubahan besar negeri kita. Kebangkitan bangsa hanya akan tercapai bila semua pihak turut serta, tidak membeda-bedakan golongan, dan saling bekerjasama untuk mencapai satu tujuan yang besar. Huff, yak cukup segitu aja deh. Gak enak nih kalau terus diceritain lebih detail, kasian yang belum nonton..(emang ada ya yg belom?) hehe,, Supaya lebih mengerti jalan ceritanya dan opini penulis di atas, alangkah baiknya bila Anda menonton sendiri film ini, baik yang pertamanya ataupun yang kedua sekarang. Semoga kita selalu mendapatkan sisi positif dari segala hal yang kita lalui.

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…