Langsung ke konten utama

Resensi: La Tahzan for Love

 
Identitas buku Judul : La Tahzan for Love
Judul Asli : Khaifatun Min al-Hubb
Penulis : Najla Mahfudz
Penerbit : Akar Media

Sebuah buku yang berisi tentang berbagai macam cerita mengenai lika-liku kehidupan remaja. Salah satu seri dari buku berjudul ‘La Tahzan..’ ini mengkhususkan pembahasan tentang sebuah perasaan yang dialami semua orang, cinta. (liat dari judulnya juga bisa kan? hehe)

Sejak Adam dan Hawa diciptakan, persoalan mengenai cinta selalu mewarnai kehidupan umat manusia. Cinta dapat memberikan perdamaian di muka bumi ini, namun cinta pula dapat menjadi penyebab hancur leburnya dunia di tangan manusia. Cinta atau kasih sayang bagai mawar merah yang indah, dia dapat memberikan kenyamanan untuk siapa saja yang melihatnya tetapi dia juga dapat melukai kulit bila kita tidak hati-hati dengannya. Terlebih lagi di jaman sekarang, para remaja yang sedang mencari jati diri sering merasa tersiksa akibat pengertian cinta yang salah. Mereka yang belum mengenal dan mencoba untuk mengetahui apa itu cinta malah terjebak dalam perangkap syetan yang hanya membawa kesengsaraan di dalamnya. Tak asing lagi bukan bila kita mendengar ada remaja putri yang menangis karena diputus pacarnya? atau melihat sebuah pertengkaran akibat cinta segitiga? Bahkan hal seperti itu dijadikan tontonan publik di layar kaca.

Penulis—melalui buku ini—mencoba untuk merubah paradigma pembaca mengenai cinta yang sesungguhnya. Walaupun di bagian ‘Kata Pengantar’ buku ini ditujukan untuk wanita, namun tak ada salahnya bila kaum Adam pun membaca buku ini. Tampaknya alasan penulis menujukan buku ini untuk kaum wanita karena semua cerita dan pengalaman yang tertulis dalam buku tersebut dialami oleh wanita. Bagi Anda yang merasa pria, buku ini justru dapat dimanfaatkan untuk mengetahui berbagai masalah yang sering dihadapi oleh wanita pada umumnya. Apalagi semua masalah tersebut dilihat dari sudut pandang wanita, sehingga Anda dapat lebih memahami karakter dan harapan mereka terhadap pria di sekelilingnya.

Dengan gaya bahasa yang mengalir dan mudah dipahami, penulis berusaha memberikan berbagai macam solusi atas 59 kisah yang tertuang di dalam buku. Terkadang penulis juga menyitir Hadis Nabi dan ‘Quote’ dari orang terkenal untuk menunjukkan landasan pemikirannya. Kisah yang termuat pun sangat beragam, seakan-akan semua masalah yang pernah dialami kaum Hawa tergambarkan dalam buku ini. Mulai dari masalah seorang remaja putri yang menjadi pengagum rahasia selama 3 tahun, persoalan keluarga yang tidak harmonis, ketidak-pede-an wanita menghadapi orang lain, dan ditutup secara apik dengan pertanyaan mengenai apa itu cinta?

Walaupun kisahnya banyak, namun penulis dapat memberikan tanggapan dengan padat dan jelas. Terlebih lagi pemikiran atau paradigma baru yang disampaikan penulis membuat semua yang membacanya akan penasaran untuk membaca lebih banyak. Jangan heran bila Anda baru mulai membaca dan saat berhenti ternyata sudah setengah buku habis dibaca. Hehe. Bagi Anda yang merasa sangat sering menderita karena cinta, buku ini sangat wajib untuk dibaca. Semoga di dalamnya Anda dapat menemukan jawaban atas permasalahan yang Anda hadapi.

Oh iya, untuk Anda yang jeli dalam membaca pasti dapat merasakan ‘benang merah’ dalam setiap jawaban penulis. Benang merah yang dimaksud di sini adalah pola pemikiran penulis yang sama terhadap semua permasalahan. Meskipun variasi solusi yang diberikan penulis bermacam-macam, namun dapat terlihat kata kunci yang menunjukkan persamaan sudut pandang atau paradigma penulis. Walau begitu, ide yang disampaikan penulis sangatlah bagus dan masuk akal, sehingga tak aneh bila Anda berkata “Oh iya, ya” saat membacanya. Beberapa ide dan pemikiran penulis yang cukup berkesan, antara lain:
  • Tidak ada wanita yang tidak cantik
  • Tak ada orang yang dapat mengubah perilaku/sikap orang lain
  • Cinta adalah buah dari saling memahami dan menanggung, bukan dari pandangan
  • Semua masalah yang terlihat bersumber dari pikiran kita
  • Pernikahan tradisional itu lebih baik
Beberapa kalimat dan kutipan dalam buku ini yang bagus untuk kita renungkan:
Cinta sejati adalah buah dari perasaan saling memahami, saling menghormati, saling menyayangi, saling menerima, saling mengagumi, saling menghargai kedua belah pihak, dan menerima kekurangan yang dimiliki pasangannya.
Tidak ada orang yang akan berubah kecuali jika dia menghendaki hal itu.
Realitanya, permulaan yang salah selamanya tidak akan pernah mengantarkan pada kebenaran..
Tidak ada pilihan lain bagi Anda selain berusaha mengerti kenyataan yang ada, yaitu bahwa kehidupan ini masih akan terus berjalan meskipun apa yang Anda kehendaki tidak terwujud.
“Selama orang yang kalah masih bisa tersenyum maka pihak yang menang tidak akan merasakan nikmatnya kemenangan”
Saya berharap Anda bisa menentukan tujuan dengan jelas sebelum memutuskan untuk tertarik dengan seorang pemuda. Anda hendaknya meyakinkan diri Anda bahwa dia adalah tipe teman hidup yang Anda damba-dambakan, telah memenuhi kritetia utama pemuda impian Anda, serta tidak mempermainkan Anda. Jangan sampai Anda terpikat dengannya karena hampanya perasaan yang menyelimuti jiwa Anda.
Anda hendaknya juga tidak terpesona dengan kata-kata cinta sehingga Anda lupa untuk berpikir secara rasional. Berpikirlah dengan baik sebelum Anda mengambil suatu keputusan. Dengan begitu, Anda tidak akan menyesal kemudian.
Jangan pernah mengharap orang lain bisa menjadi seperti yang Anda inginkan, karena Anda juga tak mungkin menjadi seperti yang mereka inginkan.
Masih banyak lagi pemikiran penulis yang dapat menjawab semua permasalahan dan hikmah yang dapat Anda petik dalam buku tersebut. Untuk lebih lengkap dan jelasnya, silakan langsung Anda baca saja bukunya! :)

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Satu Tahun Kemudian

Ibarat film, blog ini mengalami percepatan lini masa ke satu tahun mendatang, sejak entri pos terakhir ada. Tidak sama persis sih, karena memang secara harfiah setahun (lebih) kemudian baru nulis lagi, bukan percepatan. Hahaha, cuma bisa ketawa miris xD

Banyak banget yang sudah terjadi selama setahun terakhir ini. Buat teman-teman saya yang terhubung di media sosial, khususnya facebook, tentunya tahu peristiwa bersejarah untuk saya tahun lalu: menikah. Sejak saat itu, dunia yang tadinya seakan diputar dalam pola warna grayscale dari kacamata seorang jomlo, berubah menjadi full color. :D

Prioritas

Seorang kawan pernah meminta masukan untuk memilih pasangan tempat kerja baru. Dari beberapa pilihan, dia sudah buatkan daftar perbandingan keduanya. Yang dibandingkan pun beragam, dari yg standar seperti lokasi & gaji, hingga visi misi. Di antara pilihan tersebut, jelas dia bingung karena tidak ada yang paling ideal. Pasti ada plus minusnya. Dalam seni membandingkan seperti ini, kita tak kan bisa membuat keputusan, tanpa satu hal: prioritas.
Dalam bukunya, Problem Solving 101, Ken Watanabe memberikan tips praktikal dalam membandingkan beragam pilihan dan membuat keputusan. Salah satu caranya adalah dengan membuat bobot dari kriteria yang kita bandingkan. Ken memberikan contoh seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, kebingungan dalam memilih sekolah SMA yang akan mendukung karirnya. Pilihannya antara dua: sekolah yang dekat dan sangat terkenal prestasi sepak bolanya, namun persaingan tinggi untuk klubnya. Yang kedua agak jauh dan tak kalah terkenal sepak bo…