Langsung ke konten utama

Knowing

Hari rabu minggu lalu, entah setelah berapa lama akhirnya penulis berkesempatan untuk menonton bioskop lagi. Mungkin sudah lebih dari setengah tahun kali ya, selama itu nonton film ‘bioskop’nya di kelas atau gak laptop sendiri, hehe. Lumayan menghemat loh, misalkan paling murah tiket bioskop 10.000, sebulan paling gak ada satu film baru yang wajib tonton, 6x10000= 60.000! belum lagi ongkos, snack atau makannya, minum juga pastinya, benar2 menghemat kan. haha, perhitungan banget ye. Apapun itu, film yang berhasil ditonton minggu lalu adalah Knowing. Ada yang unik saat memutuskan untuk menonton film ini. Begini ceritanya, penulis memilih bioskop yang paling dekat rumah untuk menonton (hidup cijantung!), dan kebetulan film yang diputar salah satunya adalah Knowing. Ternyata Knowing itu satu-satunya film produksi luar negeri yang ada di daftar main bioskop itu, lainnya film dalam negeri. Sekedar informasi, di daerah sini memang yang lebih laku itu film lokal, film hollywood gitu cuma sedikit peminatnya jadi pasti jadwal putarnya selalu terlambat dibanding bioskop lain di Jakarta. Waktu itu saja ada film baru James Bond yang Quantum of Solace, tapi masa tayangnya cuma seminggu kalau gak salah, sedikit peminatnya. Uniknya, ternyata bioskop itu sudah memakai sistem komputerisasi tiket! Hah, maksudnya apa? Untuk yang sering nonton di bioskop2 tengah kota pasti familiar dong dengan tiket khas 21 yang berbentuk kotak berisi informasi nama bioskop, judul film, tanggal dan jam main, dan letak kursi yang dicetak dengan bantuan komputer. Nah bioskop cijantung ini ternyata (akhirnya!) menggunakan sistem seperti itu juga. Dulu tuh tiketnya masih tiket kertas gitu yang ditulis tangan, mirip karcis masuk ragunan gitu deh. Wah setelah sekian lama tidak menonton di sini ternyata sudah banyak kemajuan ya. Di dalam teaternya juga kursi-kursinya sudah baru, lebih nyaman. Namun proyektornya kelihatannya masih yang lama, kadang ada suara-suara putaran aneh gitu dari belakang atas alias tempat proyektornya. Secara keseluruhan sih sudah jauh lebih baik, mudah-mudahan saja dapat lebih berkembang. Ternyata film lokal banyak manfaatnya juga yah, hehe. Langsung saja deh cerita tentang Knowing: Knowing, sebuah film yang salah satu isinya menceritakan tentang teori akhir dunia akibat badai matahari yang cukup besar sehingga menimbulkan radiasi dahsyat di bumi dan mengakibatkan musnahnya seluruh kehidupan yang ada. Uniknya, alur cerita yang mengarah ke sana terasa cukup menegangkan. Awal film berlatar pada tahun 1959, di sebuah sekolah dasar—tentunya di amrik sono—yang baru akan meresmikan pendirian sekolah tersebut dengan cara membuat time capsule. Kapsul waktu ini berisi gambar-gambar rekaan siswa sekolah tersebut tentang harapan mereka di masa depan, yang akan dikubur selama 50 tahun dengan harapan nantinya time capsule ini akan dilihat lagi oleh generasi penerus. Tampaknya akan panjang bila ceritanya dilanjutkan sampai habis, hehe. Singkat saja, ternyata dalam kapsul waktu tersebut ada seorang anak yang menulis deretan angka-angka aneh. Tulisan ini didapatkan oleh seorang anak yang ayahnya tak lain dan tak bukan tokoh utama film ini, Professor Jonathan "John" Koestler. Namanya juga film, ya kira-kira sudah bisa ditebak kan alurnya, akhirnya si profesor ini berhasil mengetahui makna dari deretan angka tersebut. Dan ternyata itu adalah ‘jadwal’ berbagai peristiwa besar yang menewaskan banyak orang dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Lebih menegangkan lagi, ‘jadwal’ terakhir merujuk pada akhir dunia. Akhirnya dia pun ‘berpetualang’ untuk mencari jalan keluar untuk ’mencegah’ hal itu dan berusaha menyelamatkan diri. Nah serunya mungkin dimulai saat itu, dengan efek-efek khas hollywood yang terkesan ‘film’ banget, suara instrumen pengiring yang pas banget sama alurnya, scene film yang cukup mendukung, semakin membuat tegang saat menontonnya. Apalagi kalau misalkan nonton di bioskop pinggiran yang dingin, sendirian, dan jarang penonton lain, maknyus banget dah rasanya. (pengalaman pribadi,hehe) Rasanya sudah banyak yang mereview atau membuat resensi tentang film ini ya, jadi segitu aja ceritanya. hehehe, hidup oportunis! Kalau mau lebih lengkap bisa lihat di wikipedia atau sinopsis singkatnya di FilmPendek.

Hikmah

Dalam setiap film atau cerita pasti ada sebuah pelajaran atau hikmah yang dapat kita ambil. Pun demikian dengan film ini, dapat membuat kita sadar kembali akan betapa lemah dan kecilnya manusia yang terkadang sombong dengan teknologinya. Dalam film digambarkan, matahari hanya cukup ‘batuk’ atau ‘bersin-bersin’ saja untuk memusnahkan kehidupan di bumi ini, tidak perlu sampai meledak atau padam. Ini menunjukkan masih betapa lemahnya manusia untuk menghadapi bahaya dalam skala tata surya saja, belum galaksi, belum antargalaksi, belum jagad raya. Oleh karena itu, bersyukurlah bila kita sekarang masih dapat bernapas dengan bebas dan gratis (siapa tau nanti harus bayar), masih memiliki kakak,adik,orang tua,dan keluarga yang menyayangi kita, masih bisa berkumpul dan bermain dengan teman, masih dapat melakukan berbagai aktivitas, dan terpenting masih dalam lindungan-Nya di alam semesta yang sangat rawan ini. Ingatlah, orang yang bijak adalah orang yang sadar bahwa dirinya dapat meninggal kapan saja. Sehingga dia akan terus memperbaiki dan mempersiapkan dirinya sebelum telanjur bila sudah waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Pelajaran lain yang dapat diambil dari film ini adalah mengenai kasih sayang. Secara implisit penonton diberitahu bahwa istri sang profesor meninggal akibat kebakaran di sebuah hotel dalam sebuah perjalanan dinas, sehingga membuat dia merasakan kesedihan yang mendalam dan berlarut-larut. John—si profesor—tak ingin hal itu terjadi pada anaknya, sehingga dia enggan untuk meninggalkan anaknya walau sekedar dititipkan ke adiknya. Kasih sayang John kepada istri dan anaknya telah membuat dia nekat untuk mencoba menentang takdir seperti yang tertulis dalam kode angka. Walaupun pada akhirnya dia kembali harus menyesal setelah gagal untuk menyelamatkan seorang ‘partnernya’, namun kali ini dengan ikhlas dia melepas kepergiannya. Sama halnya ketika anak semata wayangnya, Caleb, harus meninggalkan bumi untuk memulai kehidupan baru di dunia lain, John dengan tegar melepas kepergian Caleb demi keselamatannya. Dan di akhir cerita, John yang semula mempunyai hubungan kurang baik dengan ayahnya membuka kembali pintu hatinya dan menyadari bahwa keluarga adalah rumah yang terbaik, terutama di saat yang paling kritis dalam kehidupan ini. Bila kita telusuri lebih dalam, niscaya tak akan ada habisnya hikmah yang dapat kita petik. Walaupun terkadang film hollywood itu ‘katanya’ sering terisi oleh pesan-pesan terselubung yang dapat meng-‘brainwashing’ penontonnya, tak ada salahnya jika kita hanya mengambil hal yang bermanfaat untuk kehidupan. Setiap orang pasti memiliki perbedaan sudut pandang untuk mengambil hikmah yang terdapat dalam sebuah cerita atau film.

Komentar

  1. gue juga udh ntn knowing, abis ntn merinding haha

    BalasHapus
  2. hmm,,
    gw mo sdikit komentar dong,,
    hehe
    pada ngerasa ga sih filmnya anti-klimaks??
    terakhir2nya itu loh,,
    gad kejutan lagi lah intinya,,
    tapi overall bagus si emang,,
    ^^

    btw, bung yahya,,
    taro blog gw di "the other blogger" lo dong,,
    hehe
    promosi neh,,

    BalasHapus
  3. wah bimo ternyata ya..ckckck :$

    ya kyaknya sih gtu, cuma udah klamaan kali filmnya jadi langsung diudahin aja daripada bosen,hhe.

    oke deh, tapi mana alamat blog loe? itu cuma alamat profile doank kn..mane alamat blognya..

    BalasHapus
  4. hehe
    skalian nanya nih,,
    fulan#2 siapa bung??

    BalasHapus
  5. weits,,rahasia perusahaan itu, hehehe :D
    dengan alasan privasi, nama disamarkan..
    tampaknya tidak akan pernah ada yg tahu pasti, karena sangat di luar dugaan..;;)

    BalasHapus
  6. hebat bener nie program :x
    cz w juga orang yg awam, mungkin semakin lama, dapat w mengerti y...... :D

    BalasHapus
  7. Ya ampuun.. udh lama bgt gak nonton di Graci!
    terakhir nonton Resident Evil 2 disonoh(taon jebot)

    setuju sm hikmahnya!!
    bener tuh, terakhirnya aneh..

    BalasHapus
  8. wah2,,pernah nonton di situ juga? ternyata..:f

    BalasHapus
  9. op kors! :D
    kn anak cimanggis. dulu blm ad cibubur junction, cimanggis mall(kgk bkalan gw nonton disitu), margo, detos. Graci doang yg pling deket..

    BalasHapus

Posting Komentar

silakan komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Pranala Blog-nya anak Jagung

Yak berikut daftar pranala blog anak fasilkom ui 2009 alias Jagung. Dicari dan diambil dari berbagai sumber secara brute force. Yang diambil adalah blog dengan domain sendiri atau yang ada di blogspot, wordpress, blogsome, deviantart, tumblr, .co.cc, dan livejournal. Selain itu seperti formspring dan twitter tidak dimasukkan karena kayaknya bukan termasuk kategori 'blog'. Kalau ada yang ingin menambahkan atau justru tidak ingin dimasukkan, feel free to contact me :)

Resensi: La Tahzan for Love

  Identitas buku Judul : La Tahzan for Love Judul Asli : Khaifatun Min al-Hubb Penulis : Najla Mahfudz Penerbit : Akar Media Sebuah buku yang berisi tentang berbagai macam cerita mengenai lika-liku kehidupan remaja. Salah satu seri dari buku berjudul ‘La Tahzan..’ ini mengkhususkan pembahasan tentang sebuah perasaan yang dialami semua orang, cinta. (liat dari judulnya juga bisa kan? hehe) Sejak Adam dan Hawa diciptakan, persoalan mengenai cinta selalu mewarnai kehidupan umat manusia. Cinta dapat memberikan perdamaian di muka bumi ini, namun cinta pula dapat menjadi penyebab hancur leburnya dunia di tangan manusia. Cinta atau kasih sayang bagai mawar merah yang indah, dia dapat memberikan kenyamanan untuk siapa saja yang melihatnya tetapi dia juga dapat melukai kulit bila kita tidak hati-hati dengannya. Terlebih lagi di jaman sekarang, para remaja yang sedang mencari jati diri sering merasa tersiksa akibat pengertian cinta yang salah. Mereka yang belum mengenal dan mencoba untuk