Langsung ke konten utama

Catatan Tentang Jodoh (1)

sumber
*Ehem* Disclaimer dulu, seri pos ini berisi ringkasan dan rangkuman beberapa materi berkaitan tentang jodoh, nikah, dan kawan2nya. Ditulis dengan tujuan berbagi, siapa tau ada yang emang lagi nyari, lagi siap2, ataupun untuk menambah wawasan aja. Sumber materi diambil dari seminar, rekaman dan buku, ditambah dengan tanggapan dari saya pribadi (cuma nge-iya-in aja sih maksudnya :p). Jadi pos ini bukan tempat untuk menggalau ye, catet. Saya tidak bertanggung jawab atas apapun reaksi atau perasaaan yang timbul akibat dari membaca pos ini. So, kalau ente gampang galau, gak usah baca deh mendingan, hehe.

Pertama, materi tentang jodoh dari Ustadz Salim A. Fillah, berjudul “Jodoh: Memilih atau Dipilih”. Acaranya waktu itu di Masjid UI pas bulan puasa, diadakan oleh komunitas Hijabers UI. Karena saya belum pernah secara langsung ngeliat ustadz Salim, jadilah saya datang padahal mah karena topiknya aja :D. Nah saat itu yang jadi topik utamanya ya sesuai judul, jodoh itu kita yang memilih atau nunggu dipilih aja? Dugaan saya sih, sudut pandang yang diambil dari sisi akhwat alias wanita.

Seperti kita tahu, dalam pernikahan, tradisi yang berkembang itu kan biasanya pihak cowok yang menentukan pilihan kemudian menanyakan ke pihak cewek, apakah bersedia dinikahi atau tidak. Jadi kesannya, cewek tuh gak bisa milih, cuma bisa nerima atau nolak aja kalau ada yang menanyakan. Ustadz Salim dengan gaya khasnya yang tenang namun meyakinkan, memberikan beberapa uraian dan penjelasan tentang ini.

Sebenarnya, pertanyaan jodoh itu memilih atau dipilih, kurang tepat. Jodoh itu tak akan tertukar. Yang mungkin berbeda adalah “rasanya”, bagaimana cara kita menjemputnya. Yang menjemput jodoh dengan berpacaran, akan beda dengan yang gak pacaran. Jadi, yang dapat kita perjuangkan adalah ikhtiarnya, urusan bagaimana atau kapannya, itu terserah Allah saja. Kalau Allah jadikan mudah, insya Allah jalannya akan jadi terbuka sekali. Ini tentang adab kita dalam upaya menjemput jodoh. Jadi, pertanyaan yang lebih tepat adalah, sudahkah cara saya berikhtiar sesuai dengan yang diridhoi-Nya?

Lalu, doa dalam sholat istikhoroh yang biasanya dilakukan saat masa pencarian tersebut, sesungguhnya sangat indah sekali. Di dalamnya, kita memohon agar kita diberi kemantapan pilihan berdasarkan ilmNya, bukan ilmu kita, karena ilmu kita jelas terbatas. Dan kita memohon ketetapan dengan kuasaNya, bukan kuasa kita. Artinya, kita benar-benar berserah sepenuhnya kepada Allah agar apa yang dipilih memang benar-benar yang terbaik. Jangan pernah ketika mengusahakan sesuatu, merasa kita berkuasa. Mudah bagi Allah untuk membolak-balikan sesuatu.

Ini bukan mencari jodoh yang ideal atau sempurna, yang kita butuhkan adalah jodoh yang tepat. Kita boleh saja jatuh cinta kepada banyak orang, namun membangun cinta hanya dengan satu orang. Nah intinya, yang penting usaha mencari orang sholih dengan cara yg benar. Contoh bentuk Ikhtiar wanita: mengingatkan pada orangtua, bahwa mereka punya tanggungjawab mencarikan jodoh yg baik. Terus gimana menilai seorang ikhwan/lelaki yang mengajak nikah? Bisa dicari tahu tentang ibadahnya, sikap pada bunda, sikap pada kawan sebaya, sikapnya pada anak kecil.

Bagaimana dengan akhwat yang mengajukan diri? Hal ini tidaklah melanggar syariat. Konsekuensi gak enaknya cuma satu, ditolak. Tapi tentu akan lebih baik daripada tidak jelas. Tidak ada penghalang dari syariat, yang ada hanya budaya, dan budaya bukan syariat. Secara langsung atau lewat perantara? Bisa keduanya. Pada jaman Rasul ada wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikahi. Dengan perantara pun baik, namun perlu dipilih perantara yang tepat. Contoh perantara: Maisarah perantara khadijah. Perantara harus punya kriteria yg sama dengan calon kita, dan tidak punya kepentingan pribadi (intinya supaya objektif).

Dalam sesi tanya jawab, ada yang bertanya (akhwat) apakah kita boleh menolak laki-laki bukan karena agamanya? Jadi menolak karena merasa gak cocok aja, bukan karena agamanya kurang baik. Menurut Ustadz Salim, hal ini memang menjadi dilema. Dalam hadis kan disebutkan, jika ada lelaki yang baik agamanya, maka sebenarnya tak ada alasan untuk menolaknya. Namun tak ada larangan juga untuk menolaknya, karena ini masalah preferensi pribadi yang beda-beda tiap orang. Jika sudah begini, maka mintalah fatwa pada hatimu. Pastikan bahwa memang kita sendiri yang memilih keputusan tersebut. Dan jangan lupa yakinkan dengan istikharah. Allah akan memberikan jodoh yang terbaik saat kondisi kita sedang dalam kondisi terbaik. Siapapun itu. Jadi, perbaikilah diri.

Yak, kira-kira itulah ringkasan materi tentang jodoh dari ustadz Salim Fillah. Secara subtansi, tak ada yang berbeda dengan materi2 yang serupa. Sudut pandangnya aja yang menurut saya agak beda, atau setidaknya baru saat itu saya mendapat sudut pandang seperti itu. Tapi, setelah mendapat materi itu, kadang saya suka berimajinasi deh, hehe. Berkhayal suatu saat nanti ada akhwat yang mengajukan diri untuk dinikahi, dan ternyata dia adalah orang yang selama ini saya dambakan. xD Hahaha, ngaco abiez xD

Terlepas dari imajinasi liar saya, satu hal yang dapat kita garis bawahi adalah tak ada salahnya jika akhwat yang mengajukan diri terlebih dahulu. Artinya, gak melulu mesti nunggu dipilih, tapi berhak juga untuk memilih, melakukan first move. Dan sama halnya, baik pihak ikhwan atau akhwat yang memilih, yang dipilih berhak untuk menolak. Hehe. Tapi seperti yang dibilang Ustadz Salim, lebih baik ditolak daripada digantung. #eeaaa xD. Personally, I couldn’t agree more. Saya selalu sepakat, lebih baik gagal daripada tidak mencoba sama sekali. Kalau gak dicoba, ya kita gak akan pernah tau hasilnya..kalau gagal ya coba lagi aja, dengan persiapan yg lebih matang tentunya. Kalau ternyata sukses, akan menjadi hal yang menyenangkan bukan? :D

Sumber Ringkasan :

Postingan populer dari blog ini

obat-obatan: menyehatkan atau menyakitkan?

Huff,,sudah hampir genap 5 hari ini salah satu jari kaki terbalut oleh perban atau apa lah itu namanya. Sampe diperban gitu sih karena kulit bagian bawah jari kakinya mengalami luka toni eh maksudnya luka robek yg cukup lebar dan dalam. Alhasil kata bu dokter musti dijait biar cepet sembuh. En ternyata oh ternyata dikasih obat juga, kirain cukup dijait trus sembuh. Akhirnya mau gak mau rela gak rela rekor ‘anti obat’ ane berhenti deh. Sekilas mengenai rekor ini, sudah hampir 5 tahun lebih lah ane tuh gak pernah minum obat dari dokter ataupun obat yg ky suplemen buat tubuh gitu. Jadi alhamdulillah selama itu ane gak pernah mengalami sakit yg cukup parah sehingga membutuhkan obat khusus ataupun minum obat buat sekedar nenangin diri or nambah stamina. Tapi karena skrang obatnya udah dibeli, mau tak mau diabisin deh.. Sebenernya ane sangat anti-obat loh, obat yg bentuknya konkret tentunya. Obat yg mempunyai berbagai bentuk mulai dari puyer, sirup, tablet, kapsul, kaplet, und so weiter se…

Hijrah

Selamat tahun baru 1438 Hijriah!

Gak penting sih selamat2 gitu, haha. Kalo kata Ustadz Farid Nu'man di channel telegram nya, beliau bilang seharusnya pergantian tahun hijriah itu menjadi momentum untuk kita umat muslim merefleksi kejadian hijrah yang dialami oleh Rasul dan para sahabatnya dahulu. Membaca, mempelajari, dan mengambil hikmah yang terkandung dalam kisahnya. Lebih bagus lagi jika kita bisa menerapkan pelajaran2 tersebut dalam konteks jaman sekarang. Karena salah satu makna hijrah yang dapat kita ambil, yaitu: berpindah (berubah) ke tempat (arah) yang lebih baik.

Klise sih, tapi ya entah kenapa tiap momen tahun baru selalu saja kita (at least gw sendiri sih xD) punya semacam 'resolusi' untuk menjadi lebih baik. Awalnya semangat 45, terus 2-3 bulan mulai males, tiba-tiba udah desember lagi. Repeat :p. Beda banget sama peristiwa hijrah Rasul dulu, yang benar-benar menandai awal kebangkitan Islam pada masanya. Terlepas dari suratan takdir yang memang Allah tetapkan, …

My IELTS Experience

At first I want to write this post in English, but ticket to UK is very expensive so I will just write this in Indonesia (krik...krik..krik..) xD

Yak sedikit jayusan mudah2an gak bikin ilfil ye, hehe. Alhamdulillah, siang tadi (sabtu 22/2), saya baru saja mengerjakan tes IELTS di Paramadina Graduate School, daerah SCBD. Nah aye mau sedikit cerita nih pengalaman ngambil tes IELTS, mulai dari persiapan, pendaftaran sampe penyesalan #eh. Semoga bisa bermanfaat.
Persiapan Hmm, nothing much to say xD
Karena saya orangnya sangat hemat (bisa jadi pelit), saya melakukan persiapan seadanya aja. Gak pake les persiapan, gak pake tes prediksi, gak pake jadwal tetap buat latihan. Kalo lagi mood, apalagi mendekati hari-H, barulah tergerak untuk belajar, hehe. Nah yang ini jangan ditiru ya. Emang bener dah (perfect) practice makes perfect.

Intinya sih saya siap2nya otodidak aja: baca beberapa buku tentang IELTS, nonton video pelajaran english di yutub, baca2 web tentang ielts atau english in genera…